Pelangi Kecilku by. Bu Mia (A2 Teacher, Class of 2014)

Gelap masih menyelimuti langit, bulan mulai sembunyi di balik awan karena ingin berganti tugas dengan sang mentari.  Aku masih samar-samar melihat langit-langit rumah dan masih merebahkan badan yang terasa lelah.  Tapi sudah waktunya bangkit, beranjak dari rasa nyaman tidur malamku.

Sepi… Hening..  Tak ada kokok ayam yang menyapa.  Mungkin karena rapatnya lingkungan tempat tinggalku atau karena belakangan ini sering terdengar isu flu burung, hingga tak ada lagi yang memelihara ayam.  Kini yang kudengar jelas adalah teriakan tetangga depan rumahku membangunkan anaknya untuk ke sekolah.

“Gimana mau semangat kalau bangunin anaknya teriak-teriak?” Gumamku.  Maklumlah sejak kecil tak pernah ibuku membangunkanku untuk ke sekolah.  Aku akan bangun dengan sendirinya bahkan hingga kini.  Ibuku selalu berkata “kalau gak mau bangun pagi berarti terlambat ke sekolah”.  Lucu memang, entah itu karena disiplin atau kebebasan.  Tapi yang pasti itu tertanam hingga kini, selalu coba memulai hari lebih awal.

Secangkir coklat hangat mendampingi sarapanku pagi ini. “Hmm…mm nikmat!!”.  Setelah kupenuhi hak perutku, saatnya bergegas tancap gas membelah gelap menuju terang.  Sejuknya udara pagi dan semilir angin menemani perjalananku, kurang lebih 50 menit perjalanan.  Jalanan pagi ini masih lengang, tapi jika terlambat lima menit saja akan berubah tiga ratus enam puluh derajat, rapat dan macet.  “Apa masyarakat Indonesia begitu kaya ya?, sampai satu mobil hanya satu penumpang saja”, pikirku selama perjalanan saat terjebak kemacetan.

Aku tinggal di ibu kota tapi setengah dari hariku kuhabiskan di provinsi yang berbeda. Rumah kedua ku sebut tempat kerjaku.  Tempat yang sudah hampir 7 tahun ku singgahi, berkumpul dengan bermacam-macam karakter dan kadang kala bertahan dengan ego sendiri.

“Assalamu’alaikum bu”, sapa salah satu satpam di tempat kerjaku.  “Wa’alaikumussalam pak”, jawabku sambil aku sandarkan sepeda motorku.  Masih sepi dan itu yang ku suka karena dengan begitu aku punya waktu lebih lama menyiapkan diri dan kelasku menyambut pelangi kecilku.

Seperti biasa, pagi ini suara murotal Al Quran masih ku dengar dari speaker perpustakaan sekolah, menyemangati kami membuka hari untuk memulai aktivitas di sekolah.

Tak lama mulai berdatangan sosok-sosok mungil dengan senyum manis dan tawa riang mereka, namun tak jarang tangis dan kemurungan yang mereka tampakkan.   Tangis dan kemurungan karena tak mau berpisah dengan ayah atau bunda.  Jika sudah begitu kadang harus memaksa mereka untuk mau berpisan dengan ayah atau bunda dan segera bergabung dengan teman-teman yang lain.

Hariku menarik, selalu seru dan penuh cerita yang berbeda, masih teringat jelas cerita yang kulalui setahun ini, bermain bersama teman-teman A2 yang unik dan manis.  Gadis-gadis kecil  yang selalu malu-malu saat jumpa denganku, tak sepatah katapun keluar dari mulut kecil mereka saat kusapa, namun tetap terlihat binar-binar semangat dan ingin tahu dari mata kecil mereka, ada senyum sipu yang memerah dari pipi mereka.  Tak jarang tangis mereka menemani hari kami di awal tahun pembelajaran kala itu, tangis dari mulut kecil mereka  mengisyaratkan tak ingin pisah dengan bunda yang mengantar.

Kami butuh waktu lebih lama mendekat dengan mereka, karena sebagian dari mereka tertutup.  Aku dan teman satu kelasku butuh ketenangan saat menghadapi mereka dengan keunikannya masing-masing.

“Anak-anak A2 masih banyak yang belum bisa lepas dari mama nya ya bu?”, tanya salah satu orang tua murid.  Aku hanya bisa tersenyum, meski jika dipikir  ya juga,  tapi disitu nikmatnya.  Ku pikir itu tantangan menarik untukku, tantangan yang menjadi penyemangatku untuk belajar tentang hal baru.

Hari-hari kami juga diceriakan oleh semangat anak laki-laki yang cukup unik karakternya, ku masih ingat saat Umar menangis mencari sang bunda, tapi setelah didekati ia langsung diam dari tangisnya tapi saat ku tinggal lagi, ia menangis lagi.  Saat itu Umar hanya ingin memastikan dirinya aman.  Lalu ada Bilal yang cukup ceria dan mudah membaur dengan teman-teman.  Bilal dan Rheema yang berani tampil saat bu Dina tampil mendongeng.  Akram si lembut yang butuh waktu untuk dapat berpisah dari neneknya, kami tak bisa memaksa Akram untuk ditinggal neneknya, tapi perlahan Akram sendiri yang meminta neneknya untuk tidak menemaninya.  Tak jauh berbeda, Muadzpun butuh waktu berpisah dari ummi, kamipun memakluminya apalagi saat itu Muadz sedang puasa dan bangun jam 3 pagi, mungkin ia merasa mengantuk.

Pagi itu setelah bel berbunyi senandung Al Quran dilantunkan di tiap kelas, tak berapa lama datang 1 murid kami yang diantar oleh sang bunda.  Masih sikap yang sama yang ia tampilkan.  “Aku ga mau sekolah bunda” bilang Ilyas pada sang bunda diikuti rengekkannya.  Hari ini masih ku izinkan sang bunda menemaninya tapi esok harus ditepati kesepakatan kami. Sang bunda tak boleh menoleh meskipun Ilyas menangis.

Ilyas hanya butuh waktu lebih lama dari teman-temannya untuk dapat berpisah dengan sang bunda, kami anggap ini peralihan dari rumah ke sekolah, jarak dari rumahnya ke sekolah cukup jauh.  Kami harus mengalihkannya dengan cerita-ceritanya selama perjalanan ke sekolah, “hari ini Ilyas naik apa ke sekolah?” tanyaku mengalihkan tangisannya, “naik ojek”. Jawabnya diantara tangisnya.  Kenapa Ilyas ga mau sekolah?, kan di sekolah bisa main dengan Bilal, Umar dan yang lainnya”, bujukku padanya.  “Tapi kan di sekolah ga ada bunda”, jawabnya.

Alhamdulillah, tak berapa lama tangisnya berhenti. Ilyas mulai tenang, Bilal dan Umar menghampirinya “Il kenapa sih kamu ga mau masuk?”, tanya Umar padanya, “iya kan kita bisa main lego Il..” tambah Bilal. “Tapi aku mau tunggu bunda, kalo di dalam ga bisa lihat bunda” jawabnya.  “ahh.. kamu, bundanya pasti datang nanti, kita juga ga ada mama dan bundanya” bujuk Bilal.  Aku hanya bisa tersenyum melihat dan mendengar obrolan mereka sambil bersyukur karena aku punya murid yang punya perhatian besar pada temannya.

Umar, Bilal dan Ilyas sudah berteman sejak mereka di TABAS, kami merasa sangat terbantu dengan mereka, beberapakali kami meminta Umar dan Bilal yang membujuk Ilyas agar mau berpisah dengan sang bunda, dan itu jauh lebih mudah untuk Ilyas berpisah dengan bunda.

Saat bersama Ilyas, aku seperti bercermin pada diriku sendiri, mungkin karena kami sama-sama anak tunggal, tak jarang egoku sering mendominasi saat menghadapi Ilyas yang juga punya ego tak jauh beda denganku. Lucu memang, murid dan guru sering adu pendapat dan kemauan.

Alhamdulillah, berjalannya waktu Ilyas mulai nyaman di kelas A2, lambat laun sudah mau berpisah dengan bunda tanpa menangis, itu jadi kepuasan tersendiri untuk kami, dengan kesiapan itu akan mudah bagi kami menanamkan konsep kemandirian, daya pikir dan psikomotor.

Tentang kegiatan psikomotor, ada satu kejadian yang tak mungkin ku lupa, dan itu cukup membuatku panik.  Pernah satu hari kami sedang bermain melompat dengan satu kaki, lidah Ilyas tergigit olehnya sendiri, darah mengalir cukup banyak dari lidahnya.  Aku panik dan rasanya ingin menangis, segera kubawa dia untuk kumur-kumur dan memakaikannya madu.  “Ilyas mau bu Mia bawa ke dokter aja?”, tanyaku. “Ga usah, kan bunda aku dokter”.  Teman sekelasku menenangkanku, “InshaaAllah nanti sembuh bu Mia, sekarang dikasih madu aja”.  “Bu Wida yakin ga akan apa-apa kalo ga ke dokter?” tanyaku untuk meyakinkan.  “Lidah itu bisa merapatkan luka sendiri, tapi kalo bu Mia khawatir telpon dokter Weny dulu, kalo misal harus ke dokter diantar ke dokter aja.” jelas pimpinanku.

Aku juga takkan pernah lupa dengan gaya Umar yang  selalu mencoba tenang saat kegiatan psikomotorik kasar seperti bermain di rumah pohon atau berjalan di atas papan titian, meski terlihat jelas kepanikannya tapi hebatnya ia tutupi dengan tetap berani mencoba.  Aku jadi belajar darinya bahwa tak selalu kelemahan kita harus ditampakkan bahkan dengan orang-orang terdekat kita.

Dan tak kalah hebatnya adalah sikap Bilal, Bilal akan menyemangati Umar, “Ayo Umar, kamu pasti bisa!, kamu jalannya pelan-pelan aja, aku tungguin kamu di bawah ya”.  Bilal akan menyemangati dengan senang dan meyakinkan. Aku juga takkan lupa senyum menyemangati itu, yang tak pernah kupikirkan akan keluar dari mulut anak kecil yang belum 5 tahun usianya.

Ilyas, Bilal dan Umar saling mengisi dan melengkapi hari-hari kami, keunikan mereka berbeda-beda. Ilyas yang senang mendengar dan bercerita, Bilal yang periang selalu punya cara menyemangati teman-temannya dan selalu bisa berpikir cepat memutuskan sesuatu, sedang Umar yang selalu menyenangkan dan menjadi rebutan teman-teman saat bermain.

Meski mereka berteman baik tapi mereka tetap anak-anak, kadang kala ada tangis yang keluar dari mulut mereka karena merasa dimarahi atau karena berebut lego, merasa sudah duluan main legonya. Akan tetapi biasanya tak berlangsung lama, hanya beberapa menit saja.  Pernah suatu ketika Ilyas  dan Bilal sama-sama menangis karena berebut lego, mereka akan saling berteriak dan menangis, lalu mereka akan saling tertawa mendengar teriakan dan tangis mereka, setelah itu merasa tak ada masalah dan bermain kembali.  Berbeda dengan Umar, Umar tak pernah menangis karena Ilyas atau Bilal, tapi saat Umar menangis karena temannya yang lain maka Bilal dan Ilyas yang akan jadi juru bicara Umar, Ilyas dan Bilal akan menceritakan kronologis kenapa Umar menangis.

Setahun bersama mereka berlalu dengan banyak pesona, kini mereka akan menapaki jalan selanjutnya, menggapai mimpi-mimpi mereka dengan keunikan masing-masing dan di kelas yang berbeda.

Semoga selalu sehat ya dan tetap bersahabat baik, dimanapun saling menjaga dan memperhatikan, doa kami untuk mereka.  Terima kasih ya untuk pembelajaran pentingnya selama setahun kemarin.  Tetap semangat ya… ^_^.

#CelotehQ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s