Merapaaaat ke kajian muslimah

Penting ini!

Segala kerisauan hati ini perlahan memudar. Udah ngaca berkali-kali sampe kacanya mau retak 😀 tetep ga nemu sumber kegalauan hati ini. Padahal hubungan dengan orangtua baik, dengan suami baik, anak-anak juga baik. Tapi tetap galau. Tetap merasa something missing. Efeknya cuma 1 sih, bikin males mau ngapa-ngapain. Bosan pun mendera. Rutinitas harian jadi ga mengasyikkan lagi. Belanja online pun ga bisa memuaskan diri ini (kurang mahal kali yak belanjanya…hahaha)

Lucu emang manusia yang satu ini. Kurang apa dia coba. Allah kasih banyak rezeki buat dia. Tetep masih merasa selalu ada yang kurang. Manusiawi memang bagi sebagian orang, tapi bagi saya itu tipe manusia yang kurang bersyukur. Mau hitung berapa banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung dia? Buanyaaaaaak… tak terhitung.

Fiuuuuhhh….. ini cobaan kecil sebenarnya. Bisa segera dilalui bila diri sendiri yang berniat untuk berubah. Banyak orang yang masalah hidupnya rumit mit mit, jauh bikin pusing. Tapi kalau masalah kecil begini aja, lalu diri sendiri tidak mau berubah, maka situasi seperti ini akan terus berlanjut,  bahkan mungkin bisa lebih parah.

Mikir-mikir…. *deep thinking kalo kata bule…. Ternyata saya futur. Duh, malu rasanya bisa dihinggapi rasa itu. Dengan segala kenikmatan lahir batin yang sudah Allah beri untuk saya, koq bukannya menambah keimanan, eh ini malah menurun. Inilah sumber permasalahannya. Saya tipe manusia yang gampang menyerap, seperti si spongebob. Kalau merapat sama teman yang buruk, cepat sekali saya jadi bandel. Kalau dengan teman yang baik, insya Allah bisa menjadi orang yang baik juga.

Masalahnya, saat itu, saya tidak terpapar oleh teman manapun. Di sekolah saya ga punya teman dekat, cuma beberapa ibu-ibu aja yang suka saling sapa dan ngobrol sambil tunggu anak-anak pulang. Lalu di rumah lebih parah lagi. Cluster yang isinya cuma 10 rumah ini selalu sepi. Lalu mau pegi ke kajian, selalu merasa berat karena takut ga boleh bawa anak-anak, takut dijalan ada apa-apa karena kendaraan yg kami pakai oldies sekali, dan berbagai alasan lain.

Saya coba “memaksakan” diri untuk lebih rajin mendengar kajian melalui fasilitas yang tersedia di rumah saja. Saya dengerin radio, internet streaming, buka buku agama, browsing website islam, dsbnya. Wih, tetep loh ga manjur. Hati ini masih berasa hampa. Saya merasa perlu “terpapar” dengan kajian LIVE. Saya perlu “Pergi ke Kajian” bukan hanya mendengar lewat radio atau TV.

Berkumpul dengan ummahat sholehah, duduk bersama dalam kajian itu luar biasa indahnya. Walaupun jujur aja saya disana ga kenal siapa-siapa. Tapi berasa punya banyak teman.

Belum lagi kalau isi kajian ustadznya menyinggung situasi yang sama dengan hati ini. Langsung deh ngangguk dalem-dalem, berasa si ustadz cuma ngomong sama kita doang. Hehehe…

Ternyata, semua ketakutan saya akan situasi saat kajian tidak terjadi. Anak-anak ga pernah ganggu, duduk manis, walaupun kadang pake cara ampuh buat diemin mereka (keluarin game di tablet PC). Saya bisa at least 1 jam duduk manis denger dan nulis isi kajian. Biasanya kalau udah tanya-jawab, saya mulai sibuk ngurus anak-anak yang minta jajan lah, yang mau pipis lah.

Perlahan penyakit hati ini mulai terobati. entah kenapa pikiran kembali jadi jernih. Mulai bisa menjalani rutinitas ibadah dengan lebih baik daripada sebelumnya. That’s It. Merapat ke kajian adalah the best treatment for mental-ache. Mudah-mudahan Allah selalu memberi hidayah untuk saya dan keluarga agar selalu terpapar dengan teman dan lingkungan yang baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s