curhat di siang bolong

Anak-anak lagi bobo siangnya kompak. Rasanya, pengen juga ikutan tidur. Tapi inget hari ini ada kemungkinan kedatangan paket, jadi ga bisa tidur. Kasian pak kurirnya kalo yang punya rumah ketiduran, berarti kan dia harus antar ulang besok.

 

Mau nonton TV, eeeeee…indopisiong nya belum dibayar. Bisanya cuma tepe-er-i aje. Ya sudah, jadi kita blogging aja yak.

 

Cerita tadi pagi agak kaget denger tetangga, yg sama2 ibu rumah tangga, hari ini resmi kembali bekerja. Beneran kasihan lihat anaknya. Katanya mau dititipin dirumah budenya yang rumahnya di daerah proyek bekasi sono, sementara si ayah yang nganter, kerjanya di Priok. Ohlalaaa…bunda C… Padahal kemarin dirimu sendiri bun yang bilang, kalo anakmu hiperaktif, ga bisa fokus sama 1 aktivitas, ga bisa diem, ga bisa ditinggal angkat jemuran ke atas, karena belum bisa nurutin perintah. Dan kita berdua sama2 ngangguk, waktu saya bilang, lebih baik jangan ditinggal kerja kalo sikonnya begitu.

Bukannya saya ga suka sama keputusannya Bunda C, tapi ternyata, alasan si Bunda C kembali kerja adalah dorongan dari keluarga suaminya, yang terus menerus bertanya,”kapan kamu kerja lagi?”. Katanya, di keluarga suaminya, kalo wanita bekerja itu keliatan ada harganya dan jadi lebih berarti.

Ugggghhh, stigma macam mana itu?

Seandainya dirimu bisa liat bun, tadi pagi anakmu makan bubur cuma 1 suap. Si Ayah udah ga sabar, diudahin lah acara makan, langsung mandi, dan siap2 ke rumah budenya. Mereka berdua naik motor, si kecil di depan, dikasih ganjelan bantal sama ayahnya dan dia ga mau. Maunya berdiri. Di perjalanan bisa 1 jam tuh ke proyek bekasi.Belum kalo si kecil ngantuk, gimana ayahnya pegang setir?

Apalagi kalo Bunda C tau, siang ini hujan turun lumayan gede. Anakmu bobo siang ga dikelonin. Entah mau makan siang juga atau engga. Yang pasti, nanti malam, dia harus di motor si ayah lagi untuk pulang ke rumah. 

Tadi saya tulus nawarin, kalau si kecil titip di saya ajah. Toh katanya Bunda C pulang jam 15.00. Tapi ayahnya geleng kenceng banget. Yah, maklum sih, pasti dia mikir, karena saya juga punya 2 balita dirumah. Tapi daripada si kecilnya mereka harus menempuh jarak jauh begitu setiap hari, kan kasihan.

Kemarin Bunda C udah curhat, gajinya 1,xx juta. Yah, bukan masalah besar kecil, atau cukup tidaknya. Itu masalah intern rumah tangga mereka. Tapi saya sedih liat kondisi bahwa, ada 1 orang anak lagi yang harus merelakan tidak diasuh full oleh ibunya demi kata-kata keluarganya itu. Tutup kuping aja napa sih Bun (kasarnya sayah) yang penting anak terasuh dengan baik, supaya hiperaktivitasnya bisa berkurang oleh sebab didikan dan asuhan bundanya di rumah. Ga usah peduli kalo jadi ibu rumah tangga ga berarti di mata mereka. Toh pertanggungjawaban kita sama Allooh SWT, bukan sama mertua dan ipar2mu????

Sungguh stigma seperti itu ga perlu didenger. Bagi saya, ga ada orang lain yang bisa bikin saya kembali bekerja di luar rumah selain SUAMI. Kalo Abu udah bilang, “kamu kerja lagi deh, ini keputusanku sebagai suamimu.” (Glek! mudah2an it never happen), tapi kalo iya, baru deh, saya mau. Karena berarti, suami pun harus ikut menanggung akibat dari keluarnya saya dari rumah untuk bekerja. Kalo cuma karna omongan keluarga yang seperti di atas tadi, maaf aja, ga penting! 

 

Bunda C, ujan2 gini, apa ga kangen sama si kecilmu? Saya aja tadi liat dia main sama anak2 koq yaa jadi sedih inget ni anak mau mondar mandir dititipin. Ya sudahlah, urusan rumah tangga orang itu. Saya ga bermaksud sama sekali untuk ikut campur. Semoga ga ada lagi anak-anak yang harus berkorban demi kepentingan si ibu (yang sebenernya ga penting2 banget). Wallohu ‘alam bishowaab…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s