Seminar online milis SEHAT – Sabtu, 26 Maret 2011

Saya baru sempat edit hasil Seminar Online Milis Sehat beberapa bulan lalu. Walaupun belum minta izin sama yang punya milis, tapi sepertinya sah-sah aja sharing nya saya copas disini. Maksud saya biar hasil dari seminar ini bisa saya baca berulang-ulang (sukur-sukur ngelotok…hah ngelotok maksutnya pada rontok elmunya??? halah…garing bundaaa…)

Sambutan Founder Milis
Ass wr wb, Salam sejahtera’

Seminar on line ini merupakan salah satu dari serangkaian acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati sewindu “milis” tercinta kami ini. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk spirit memberdayakan pasien yang merupakan landasan setiap gerak dan langkah Yayasan Orang Tua Peduli (“YOP”).

Melalui seminar terbuka ini, YOP berharap, masyarakat menjadi lebih bijak dan cerdas dalam menyikapi urusan kesehatan, baik aspek preventif, maupun kuratif.
Kegiatan promoting rational use of medicine terhadap komunitas sudah dimulai sejak tahun 2003 dengan pendekatan multistrategi. Diawali dengan penyelenggaraan “kursus” kesehatan selama 6 bulan per satu angkatan (PESAT = Program Edukasi kesehatan Anak untuk Orang tua). Pesat sudah terselanggara 11 angkatan dan sudah terselenggara di berbagai kota di Indonesia Barat dan Tengah, mulai dari banda Aceh sampai dengan Makasar dan Sorowaku.

Penyelenggaraan PESAT pertama di tahun 2003 tersebut di atas, selanjutnya diikuti dengan dibentuknya mailing list sehat@yahoogroups.com (19 Desember 2003). Sampai saat ini anggota Mailing List SEHAT telah mencapai lebih dari 11000 anggota yang tersebar di berbagai wilayah baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Semangat “smart patient” dan “patient safety” ini juga melandasi dibentuknya situs http://www.sehatgroup.web.id pada tanggal 19 Agustus 2005 (sejak 2010 diubah menjadi http://www.milissehat.web.id) dengan motto “Be Smarter Be Healthier”. Baru pada tahun 2005, semua kegiatan patient safety ini di-institutionalized (YOP) atas prakarasa sekelompok orang tua dan para dokter yang peduli akan kondisi layanan kesehatan di Indonesia khususnya dalam kaitannya dengan layanan kesehatan anak dan layanan kesehatan masyarakat pada umumnya.

Pada tahun 2007, YOP mendirikan klinik sehat dimana para dokter dan pasien bisa bergandengan tangan menggulirkan bola salju RUM di tataran kehidupan nyata. YOP juga aktif dalam publikasi, media involvement, serta kegiatan penelitian khususnya penelitian pola peresepan pada anak di berbagai kota di Indonesia.
Mari kita terus bergandengan tangan. Pasien cerdas punya peran sangat besar dalam mengurangi praktek peresepan yang tidak rasional. Konsumen kesehatan yang “well informed” punya “power” untuk membantu menciptakan kondisi layanan kesehatan yang semakin hari semakin baik.
Selamat Datang dari Moderators
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Salam sejahtera

Selamat datang kepada seluruh peserta seminar online yang berbahagia. Puji syukur kami panjatkan atas ijin-Nya pada hari ini Sabtu, 26 Maret 2011, kita diberikan kesehatan dan kesempatan untuk berkumpul dalam sebuah seminar online dalam rangka memperingati sewindu berdirinya Milis Sehat, sehat@yahoogroups.com, dengan tema “Pasien cerdas, pengobatanpun rasional”.

Acara ini akan dihadiri oleh tiga orang nara sumber yang akan membagi ilmunya, sharing pengalaman, serta berdiskusi seputar pasien cerdas dalam kaitannya dengan pengobatan yang rasional sebagaimana tema acara seminar ini. Mereka adalah Ibu dr. Purnamawati S Pudjiarto, SpAK, MMPed, Bapak Prof. dr. Iwan Dwi Prahasto, M.Med.Sc, Ph.D. dan Bapak Irwan Julianto, MPH.
Adalah suatu kehormatan bagi kami, bahwa Bapak-Ibu nara sumber bersedia meluangkan waktunya sehingga seminar ini menjadi sebuah momen yang istimewa bagi kami dan para orang tua dalam forum ini khusunya.
Mengingat padatnya jadwal para nara sumber, maka seminar hanya akan berlangsung singkat selama lebih kurang 2 jam dari pukul 13.00-15.30 WIB. Oleh sebab itu kami selaku moderator berpesan kepada para peserta seminar agar benar-benar mengikuti netiket yang telah ditetapkan agar acara seminar online ini dapat berjalan dengan lancar, tertib, dan nyaman sehingga Bapak-Ibu peserta seminar dapat memanfaatkan kesempatan yang langka ini dengan sebaik mungkin.
Tak lupa, kami selaku moderator berpesan agar Bapak-Ibu peserta seminar menyempatkan untuk membaca makalah yang kami unggah, aktif dalam bertanya, memberikan tanggapan, dan berdiskusi selama seminar berlangsung.
Selamat mengikuti acara, Salam Sehat!
Patient Safety, first
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Salam sejahtera
Moderator
M.Hafiizh-Samsul-Ghozan
REMINDER: Mohon Dibaca : Tata Cara Tanya-Jawab Diskusi

Dear All

Selamat pagi
Semoga semuanya dalam keadaan sehat wa’afiat

Terima kasih atas antusias yang sangat luar biasa untuk dapat mengikuti seminar on line dalam rangkaian kegiatan memperingati sewindu milis sehat.
Kami berharap kesempatan ini dapat dipergunakan semaksimal mungkin untuk bertanya ke pakarnya langsung.

Sampai jam penutupan kemarin 18.00wib, tercatat 443 peserta (peserta, nara sumber dan moderator), mohon maaf dengan sangat menyesal kami tidak dapat menyetujui peserta yang baru(membatasi jumlah peserta seminar), semata-mata demi kenyaman selama proses diskusi.

Untuk itu demi kenyaman proses diskusi ini mohon kiranya untuk membaca dan mematuhi prosedur tanya-jawab :

Tata Cara Tanya – Jawab – Sharing :

# Untuk Pertanyaan :

Subjek : [Tanya] XXA…. kepada…XXB [Topik Pertanyaan]

Contoh :

Subjek :[Tanya] Ghozan kepada PSP [Apa yang dimaksud dengan Polifarmasi ? ]

Keterangan :

XXA : Nama Peserta/Penanya(Singkat saja)
XXB : Nama Pembicara (Singkatan ada dibawah)

# Untuk Jawaban :

Subjek : [Jawab] XXB…. kepada…XXA [Topik Pertanyaan]

Contoh :

Subjek :- [Jawab]PSP kepada Ghozan [Apa yang dimaksud dengan Polifarmasi ? ]

– [Jawab]Joko kepada Ghozan [Apa yang dimaksud dengan Polifarmasi ? ]

– [Jawab]IJ kepada Ghozan [Apa yang dimaksud dengan Polifarmasi ? ]

Keterangan :

XXA : Nama Peserta/Penanya(Singkat saja)
XXB : Nama Peserta Singkat saja/ Diperbolehkan antar peserta)
Nama Pembicara (Singkatan ada dibawah)

# Untuk Sharing :

Subjek :[Sharing] Topik Sharing

Contoh :

Subjek :[Sharing] Pengalaman IRUM

# Untuk Tanggapan Sharing :

Subjek :[Tanggapan] Topik Sharing

Contoh :

Subjek :[tanggapan] Pengalaman IRUM

# Untuk pertanyaan ke semua Nara Sumber (NS):

Subjek : [Tanya] xxx kepada semua NS [Topik Pertanyaan]

Contoh : [TANYA] Hafiizh kepada SEMUA NS [Bagaimana cara mendorong pemerintah agar ada peraturan: dokter wajib menuliskan resep dg nama generik?]

# Untuk jawaban dari nara sumber sesuai format jawaban diatas.

Catatan :

– Buatlah topik pertanyaan/sharing sependek mungkin tapi jelas
– Antara peserta boleh memberikan jawaban atas pertanyaan dari peserta lain dan
tanggapan atas sharing dari peserta lain dengan mengikuti tata cara yang sudah ditetapkan.
– Untuk memudahkan penulisan jawaban , maka kami persingkat ketiga nama pembicara :

dr. Purnamawati S Pudjiarto, SpAk, MMPed = PSP
Prof. dr. Iwan Dwi Prahasto, M. Med.Sc., Ph.D. = IDP
Irwan Julianto, MPH = IJ
Tanya ke ketiga Nara Sumber = NS

Apabila Bapak/Ibu masih kurang jelas, silakan bisa ditanyakan ke kami TIDAK LEWAT FORUM INI.

Cukup kirim email ke : sehat-seminar-owner@yahoogroups.com

Dan perlu kami ingatkan,dengan jumlah peserta 443 demi kenyaman bersama dalam berdiskusi,
mohon untuk membaca tata cara pengajuan pertanyaan dan atau jawaban, serta mematuhi NETIKET.

Acara seminar on line milis sehat dimulai pada hari :

Sabtu, 26 Maret 2011, lebih kurang Pukul 13.00 ~ 15.30 wib.

MOHON UNTUK TIDAK MENDAHULUI BERTANYA SEBELUM JAM YANG TELAH DITENTUKAN.

(Untuk wilayah timur dan atau peserta dari luar negeri kalau ada menyesuaikan dengan waktu tersebut)

Kami tidak akan memberikan toleransi apabila ada yang melanggar NETIKET

Sekian dan terima kasih

Selamat pagi
Semoga semuanya dalam keadaan sehat wa’afiat

Terima kasih atas antusias yang sangat luar biasa untuk dapat mengikuti seminar on line dalam rangkaian kegiatan memperingati sewindu milis sehat.
Kami berharap kesempatan ini dapat dipergunakan semaksimal mungkin untuk bertanya ke pakarnya langsung.

Sampai jam penutupan kemarin 18.00wib, tercatat 443 peserta (peserta, nara sumber dan moderator), mohon maaf dengan sangat menyesal kami tidak dapat menyetujui peserta yang baru(membatasi jumlah peserta seminar), semata-mata demi kenyaman selama proses diskusi.

Untuk itu demi kenyaman proses diskusi ini mohon kiranya untuk membaca dan mematuhi NETIKET :

1. Pertanyaan seputar topik seminar online.

2. Pertanyaan yang diajukan boleh lebih dari satu

3. Harap mengunakan kalimat yang jelas dan sopan.

4. Dilarang menyingkat kata-kata (seperti yang biasa diterapkan untuk menulis pesan singkat (SMS) atau smartphone) untuk menghindari kesalahpahaman.

5. Peserta diharapkan tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama, yang sudah pernah diajukan oleh peserta sebelumnya. Jadi sebelum mengajukan pertanyaan, mohon dilihat dulu pertanyaan-pertanyaan yang sudah muncul.

6. Peserta dilarang mengajukan pertanyaan dan atau menggunakan forum ini untuk konsultasi perihal kesehatan anaknya.

7. Diharapkan untuk menanggapi suatu e-mail, bagian dari e-mail yang terdahulu harap dihapus kecuali bagian yang akan ditanggapi(seperlunya).
Sehingga peserta atau pembicara tahu bagian mana yang ditanggapi.

8. Untuk tanya jawab,sharing dan tanggapan dapat ditujukan ke pembicara, dan atau ke peserta dengan membedakan subject-nya.

9. Pembicara diperbolehkan memberikan tanggapan dan atau jawaban atas pertanyaan yang ditunjukan untuk pembicara lainnya dengan membedakan subject-nya.

10. Semua materi/makalah yang sudah kami kirimkan hanya diperuntukan untuk peserta seminar on line milis sehat, peserta dilarang menyebarkan sebagain dan atau seluruh isi makalah dan diskusi ini ke fihak ketiga/orang lain, sebagai gantinya kami sudah menyiapkan kesimpulan yang nantinya bisa disebarkan ke orang lain.

11. Mohon untung menghapus signature/footer yang tidak berhubungan dengan tempa pembahasan seminar on line (Blog dan sejenisnya)

PENTING UNTUK DIINGAT :

1. Reminder Bagi Pengguna Smartphone (BB, Iphone dst )

Mohon untuk mematikan fungsi “edit auto text”

2. Reminder Larangan Promo/Berjualan

Demi kenyamanan bersama acara seminar online, peserta DILARANG memposting tulisan/artikel diluar konteks diskusi, misalnya berjualan atau mempromosikan sesuatu baik secara langsung maupun sembunyi-sembunyi lewat signature/footer dll, Jika melanggar, moderator TIDAKA AKAN MENTOLERIR akan langsung membanned tanpa pemberitahuan sebelumnya.

4. Oleh karena keterbatasan waktu, mohon untuk masing-masing peserta memprioritaskan pertanyaan yang memang menurut peserta penting, dengan harapan semua peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk bertanya

5. Harapan tertib dan bersabar.

Apabila Bapak/Ibu masih kurang jelas, silakan bisa ditanyakan ke kami TIDAK LEWAT FORUM INI.

Cukup kirim email ke : sehat-seminar-owner@yahoogroups.com

Dan perlu kami ingatkan,dengan jumlah peserta 443 demi kenyaman bersama dalam berdiskusi,
mohon untuk membaca tata cara pengajuan pertanyaan dan atau jawaban, serta mematuhi NETIKET.

Acara seminar on line milis sehat dimulai pada hari :

Sabtu, 26 Maret 2011, lebih kurang Pukul 13.00 ~ 15.30 wib.

MOHON UNTUK TIDAK MENDAHULUI BERTANYA SEBELUM JAM YANG TELAH DITENTUKAN.

(Untuk wilayah timur dan atau peserta dari luar negeri kalau ada menyesuaikan dengan waktu tersebut)

Kami tidak akan memberikan toleransi apabila ada yang melanggar NETIKET

Sekian dan terima kasih

Salam hormat

Moderator
Samsul-M.Hafiizh-Ghozan
[sehat-SOL] [TANYA] Joko Kepada IDP [Praktek persepan “abuse”?]
Selamat siang

Kepada Yth para nara sumber, ijinkan saya untuk bertanya kepada Prof. Iwan.

Apakah ada regulasi dari pemerintah terkait dengan peresepan?
Kenapa banyak terjadi dilapangan pasien diberikan obat yang jelas-jelas
tidak ada EBM-nya.
contoh dulu saya di judge “Hep C” padahal hasil lab jelas-jelas
nihil….malah diresepkan Hp-Pro.
ini obat tidak murah dan mungkin ribuan atau jutaan kasus lainnya yg
sama dengan saya, yang miris kalau kita mendengar dan atau membacanya,
apakah ini artinya juga suatu yang sia-sia/mubazir, bukankah 80% bahan
baku obat adalah juga impor.

Bagaimana professor melihat hal ini?
Apa kira-kira solusi nyata yg bisa diberikan baik kepada saya selaku
pasien dan atau pemerintah?
Dan mohon maaf bagaimana upaya IKAFI dalam ‘memerangi’ praktek
“Industri-Medical-Complex” yg sudah berjalan lebih dari 20th?

Terima kasih

Salam Hormat
Joko Darmono
[sehat-SOL] [TANYA] Sisil Kepada IDP mengenai seleksi dan ketersediaan obat

Dengan hormat,

Idealnya obat yang tidak diperlukan itu tidak disediakan… Kalau selama ini konsumen kesehatan sering menerima obat yang tidak diperlukan, mungkin akan terbantu bila ketersediaan obat juga dibatasi. Kadang sebagai konsumen kami bingung, misalnya obat penghenti diare tidak diperlukan, kenapa terus ada, dipromo dan bahkan dianjurkan oleh tenaga kesehatan. Menjadi tanggung jawab siapakah soal ini? Apakah kita bisa berharap adanya perampingan jenis obat di indonesia? Mohon tanggapan dr profesor.

Terima kasih sebelumnya

Sisil
[sehat-SOL] [Sharing] IdaRifai — Selalu dpt ab cefat di RS rujukan nasional
Dear all,

Saya sangat prihatin, anak saya 2x mengalami kecelakaan yg menyebabkan harus membawanya ke UGD. RS paling dekat adalah RS HK sebuah RS rujukan nasional. Pertama jidat harus dijahit krn robek dan kedua waktu kakinya kena paku berkarat. Dua2nya setelah tindakan selesai diresepkan ab cefat dan itu tdk bisa ditawar, tidak saya tebus dua2nya krn alasan pemberian untuk pencegahan.

Bahkan ketika anak saya panas common cold yg jelas2 krn virus juga diresepkan ab cefat dalam bentuk puyer 😦
Prihatin, pantas saja banyak bakteri yg resisten.

Bagaimana pendapat para nara sumber akan hal ini? Bagaimana peran media untuk membatasai penggunaan ab yg irrasional ini?

Terima kasih

IdaRifai

Ida
Mom 2R
[sehat-SOL] [TANYA] Joko Kepada IJ [ Pers dan “”industrio-medical-complex”?]
Selamat siang

Kepada Yth para nara sumber, ijinkan saya untuk bertanya kepada Pak
Irwan Julianto

Sepanjang pengamatan saya , hanya kompas yang kritis dengan kebijakan
pemerintah sejak dulu terkait dengan layanan kesehatan dan termasuk
regulasi terkait dengan obat, lebih banyak dan atau tidak terlepas dari
“The Three Musketeer” (baca : Pak irwan julianto, Pak KM/dr. Kartono
Muhammad dan Pak dr. Handrawan Nadesul), teman-teman bisa minta bantuan
google untuk melihat tulisan-tulisan beliau di kompas.

Pertanyaan saya untuk Bapak:

Kenapa hanya bapak yang kritis dikompas?
Kenapa sangat jarang mengangkat issue ini?
Kedepan bagaimana Bapak melihat issue ini?
Dan yang tidak kalah penting, mohon maaf apakah pers juga menikmati
“industrio-medical-complex” selama lebih dari 20th ini?

Mohon maaf, bila Bapak berkenan, bisakah memberikan penjelasan terkait
dengan adagium “sanbe=santun besar’ dan ‘kalbe=kalah besar”?

Terima kasih

Salam Hormat
Joko Darmono
[sehat-SOL] (tanya)AR kepada NS
sebenarnya siapakah yg memulai adanya puyer,lalu utk apa dan siapa puyer itu dibuat? terima kasih
Re: [sehat-SOL] [TANYA] Joko Kepada IJ [ Pers dan “”industrio-medical-complex”?]=> Ralat
On 3/26/2011 1:42 PM, Mas Joko wrote:

Mohon maaf, ralat untuk yg ini :
> Kenapa sangat jarang mengangkat issue ini?

maksunya

Kenapa media lain sangat jarang mengangkat issue ini?

Terima kasih

Salam hormat
Joko
[sehat-SOL] [TANYA] MKP kepada NS [bagaimana implementasi penerapan RUM secara konkrit dan terintegrasi kepada seluruh lapisan masyarakat?]

selamat siang

kepada Yth. para nara sumber,

saya ingin bertanya, mengenai bagaimana sebaiknya / idealnya penerapan RUM dilaksanakan secara konkrit (mekanisme secara struktural dan menyeluruh) dan terintegrasi di semua kalangan masyarakat?

hal apa saja yang dapat dilakukan oleh kami, masyarakat awam yang tidak bertitel sebagai tenaga medis, untuk menyebarkan visi dan misi dari penerapan RUM? terutama berbagi pengetahuan dengan mereka yang mungkin belum atau kurang melek informasi karena himpitan ekonomi, dll?

terima kasih atas waktu dan penjelasannya 🙂
mohon maaf apabila ada ucapan yang kurang berkenan

[sehat-SOL] [TANYA] Alifah Kepada IJ [Peran media dalam mendorong revolusi obat generik]
Selamat Siang semua narasumber,

Pak Irwan, pertanyaan saya sebenarnya hampir sama dengan yang baru saja dilempar Pak Joko.
Tapi saya belokkan sedikit, sebenarnya kan media berperan besar sekali dalam membentuk opini masyarakat, bahkan banyak yang menganggap berita media itu sahih sesahihnya. Nah, bagaimana caranya Pak Irwan, agar media bisa diajak, dengan segala kontroversinya, agar berpihak ke arah yang benar, mengawal upaya pembenaran kesalah kaprahan yang sudah terjadi bertahun-tahun di Indonesia. Apa yang kira-kira bisa kami lakukan untuk mendorong hal ini agar jadi perhatian publik, agar masyarakat jadi terbuka, dan mulai kritis, mempertanyakan hak mereka sebagai konsumen kesehatan.

Terimakasih.

Hormat saya,

–Alifah–

[sehat-SOL] [TANYA] D kepada IDP
P’ IDP,
Konsumsi antibiotik yang “tidak seharusnya” sering kali terjadi, seperti saat batuk pilek, salah satu isi resep yang diterima adalah antibiotik. Apa yang harus dilakukan ketika seseorang telah imun terhadap antibiotik karena konsumsi antibiotik di masa lampau ?

Semoga berkenan memberikan jawaban,
Thanks & warm regards,
Dine

Re: [sehat-SOL] [TANYA] Joko Kepada IDP [Praktek persepan “abuse”?]

Apakah ada regulasi dari pemerintah terkait dengan peresepan?
JAWAB:
Tidak ada regulasi mengenai peresepan. Peresepan obat adalah bagian dari kompetensi dan otoritas dokter. Pendidikan tentang menulis resep yang baik dan rasional memang diajarkan di FK-FK.

Kenapa banyak terjadi dilapangan pasien diberikan obat yang jelas-jelas
tidak ada EBM-nya.
contoh dulu saya di judge “Hep C” padahal hasil lab jelas-jelas
nihil….malah diresepkan Hp-Pro.
ini obat tidak murah dan mungkin ribuan atau jutaan kasus lainnya yg
sama dengan saya, yang miris kalau kita mendengar dan atau membacanya,
apakah ini artinya juga suatu yang sia-sia/mubazir, bukankah 80% bahan
baku obat adalah juga impor.
JAWAB:
Itulah yang menjadi keprihatinan saya juga. Hep C dan Hp-Pro sebenarnya tidak boleh dianggap sebagai obat, karena itu hanya suplemen, dan tidak ada bukti ilmiah meyakinkan yang menunjukkan efeknya.
Tapi ya itu, marketing ternyata bisa mengalahkan hati nurani dokter.

Bagaimana professor melihat hal ini?
Apa kira-kira solusi nyata yg bisa diberikan baik kepada saya selaku
pasien dan atau pemerintah?
Dan mohon maaf bagaimana upaya IKAFI dalam ‘memerangi’ praktek
“Industri-Medical-Complex” yg sudah berjalan lebih dari 20th?

JAWAB:
Saya tidak menggunakan istilah MEMERANGI, tapi justru menjadikan mereka partner yang baik untuk mengubah cara-cara yang tidak terpuji dan menyesatkan tersebut.
Terima kasih

Iwan Dwiprahasto

Re: [sehat-SOL] [TANYA] Sisil Kepada IDP mengenai seleksi dan ketersediaan obat

Dengan hormat,

Idealnya obat yang tidak diperlukan itu tidak disediakan… Kalau selama ini konsumen kesehatan sering menerima obat yang tidak diperlukan, mungkin akan terbantu bila ketersediaan obat juga dibatasi. Kadang sebagai konsumen kami bingung, misalnya obat penghenti diare tidak diperlukan, kenapa terus ada, dipromo dan bahkan dianjurkan oleh tenaga kesehatan. Menjadi tanggung jawab siapakah soal ini? Apakah kita bisa berharap adanya perampingan jenis obat di indonesia? Mohon tanggapan dr profesor.

JAWAB:
Obat dianggap sebagai public goods, sehingga tidak ada pembatasan di dalam memperdagangkan. Yang bisa dilakukan pemerintah dalam hal ini Badan POM dengan KOMNAS Penilai Obat Jadi adalah menscreening obat-obat berdasarkan bukti ilmiah yang sahih, terkini, dan dapat dipercaya berdasarkan prinsip-prinsip Evidence-based medicine.
Jika hasil uji klinik menunjukkan kemanfaatan yang baik, tentu akan diterima, atau suatu saat bisa ditarik dari peredaran jika ternyata membahayakan pasien berdasarkan studi-studi berikutnya.
IDP

[sehat-SOL] (Tanya) Sylvia kepada IDP (pemberian obat tanpa label)

Dari: Sylvia Sumargi

Tambah ke Kontak
Kepada: sehat-seminar@yahoogroups.com

Selamat siang,
Mohon tanggapan tentang praktek pemberian obat tanpa label, entah itu
berupa pil, tablet, kapsul, cream ataupun bentuk sediaan lainnya tanpa
keterangan komposisi. Kerap kali hal ini menyebabkan pasien harus
kembali pada dokter yang sama untuk memperoleh obat yang sama apabila
peyakit berulang atau belum sembuh. Apakah praktek tersebut etis?
Adakah regulasi yang berkenaan dengan praktek pemberian obat seperti
itu?
Terima kasih atas tanggapannya.
[sehat-SOL] [TANYA] Joko Kepada PSP [Kenapa polifarmasi terus terjadi?]

Selamat siang

Kepada yth dr. Purnamawati S Pujiarto

Saya mendengar dan membaca Ibu Dokter kontra dengan Polifarmasi, kalau
boleh tahu kenapa Ibu?
Saya sebagai masyarakat awam binggung, acuan saya untuk dapat mengerti
ini polifarmasi atau bukan itu apa?
Situasinya akan menjadi lain mana kala saya/keluarga saya bertemu dengan
tenaga kesehatan yang pro polifarmasi?
Kalau memang banyak efek negatifnya kenapa terus terjadi?
Dan adakah tips yg bisa saya lakukan manakala berhadapan dengan dokter
yang pro polifarmasi?

sekian

terima kasih

salam
joko
[sehat-SOL] [TANYA] RD kepada semua NS [realisasi pemerintah agar ada peraturan yg wajibkan dokter tulis resep sesuai dgn nama generik

Apakah wacana ini terealisasi dalam waktu dekat oleh pemeintah? apakah ada hambatan untuk realisasi?
terima kasih
Re: [sehat-SOL] [TANYA] D kepada IDP

P’ IDP,
Konsumsi antibiotik yang “tidak seharusnya” sering kali terjadi, seperti saat batuk pilek, salah satu isi resep yang diterima adalah antibiotik. Apa yang harus dilakukan ketika seseorang telah imun terhadap antibiotik karena konsumsi antibiotik di masa lampau ?
JAWAB IDP:
1. Yang paling penting, hanya gunakan antibiotika jika memang benar-benar terbukti ada infeksi oleh bakteri tertentu. Hindari penggunaan antibiotika untuk batuk pilek, karena batuk pilek 89% disebabkan oleh virus, dan antibiotika sama sekali tidak diperlukan.
2. Jika terjadi infeksi oleh bakteri yang resisten (bukan antibiotika yang resisten, tetapi bakterinya) maka bisa diganti antibiotik lain yang masih sensitif berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Menjarangkan penggunaan antibiotika akan meminimalkan risiko berkembangnya bakteri yang resisten. Pasien rawat inap di rumah sakit lebih dari 2 hari lebih berisiko untuk mengalami infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik
Thanks.
IDP

[SEHAT-SOL] [TANYA] Okky kepada semua NS
Selamat siang Yth para narasumber & peserta seminar online.

Setelah liputan “Polemik Puyer”, apakah tidak ada rencana untuk membuat liputan sejenis, dengan tema RUM, RUD. Agar masyarakat Indonesia terbuka bahwasanya obat diciptakan untuk mengobati bukan untuk mencegah dan harus digunakan serasional mungkin.
Karena walaupun banyak masyarakat Indonesia yang sudah mengerti kecanggihan internet, tapi tidak sedikit pula yang masih lebih mengandalkan tayangan liputan berita di televisi.

Maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

Salam hangat,
Okky Riani
[sehat-SOL] [SHARING]Mama Kenzo to NS[Peresepan RS tanpa konfirmasi pasien]
Dengan Hormat,

Pengalaman pribadi berkali2 sll mendapatkan obat2 dan infus tanpa minta persetujuan.
Sebelum membaca RM, pihak RS selalu meminta tanda tangan persetujuan atas tindakan RS.
Jika saya tanyakan perawat hanya mengatakan saya hanya menjalankan sesuai etiket RS dan petunjuk dokter by Phone.
Dokter selalu datang ketika saya sdh pasang infus, suntik sana sini dan meminum obat2an yg tidak pernah tau obat-obatan apa saja.
Beberapa kali menyampaikan saya alergi terhadap jenis obat apa saja. Selalu dijawab iya tapi berakhir saya mengalami pembekakan(bentol2).
Ketika ditanyakan beliau akan menjelaskan bhw yg dilakukkan sdh sesuai dg pengobatan yg seharusnya dan dokter mengatakan sdh menghindari jenis obat alergan yg saya informasikan.
Dan ini selalu terjadi dihampir semua RS yg pnh merawat inap saya.

Pertanyaannya :
Bagaimana saya menindak lanjuti kejadian diatas agar tdk berulang?

Terima Kasih

– Mama Kenzo –
Re: [sehat-SOL] [TANYA] Joko Kepada IDP [Praktek persepan “abuse”?]
On 3/26/2011 1:53 PM, Iwan Dwiprahasto wrote:
> Tidak ada regulasi mengenai peresepan. Peresepan obat adalah bagian
> dari kompetensi dan otoritas dokter. Pendidikan tentang menulis resep
> yang baik dan rasional memang diajarkan di FK-FK.

Terima kasih Prof.

Saya lanjut

Saya kira, disinilah letak salah satu yang menjadi faktor “kebebasan’
dokter untuk menentukan peresepan sehingga sering ditemui kasus seperti
saya.

Saya berfikir, pemerintah lewat lembaga yang independen, bukan di bawah
depkes..mempunyai authoritas mengaudit resep2 para dokter.
Bisakah ini dilakukan?
Apakah ada upaya IKAFI dan atau Dept/Pemerintah terkait kearah sana?

terima kasih

salam hormat
joko
[sehat-SOL] (Tanya) Resti Kepada Semua NS mengenai obat OTC

mungkin pertanyaan saya mirip sama pertanyaan mbak sisil, untuk obat OTC (yg tanpa resep) dan gampang didapatkan semua orang mengapa aturan untuk obat OTC itu juga tida diatur lebih ketat, sepengetahuan saya obat OTC yang paling banyak dijual dan laku adalah untuk obat obat yang kita tahu untuk penyakit Common Problem yang memang akan bisa sembuh sendiri tanpa perlu obat. dan obat OTC ini iklan nya juga tidak diatur seperti obat dengan peresepan dokter jadi seringkali masyarakat akan sangat gampang terpengaruh untuk meminumnya.

yang saya tanyakan mungkinkah obat OTC ini diatur pemerintah kitalebih ketat, misalnya saja tidak ada obat OTC untuk jenis penyakit yg self limited..

Terimakasih

Hormat saya

Resti
Re: [sehat-SOL] (Tanya) Sylvia kepada IDP (pemberian obat tanpa label)

Selamat siang,
Mohon tanggapan tentang praktek pemberian obat tanpa label, entah itu
berupa pil, tablet, kapsul, cream ataupun bentuk sediaan lainnya tanpa
keterangan komposisi. Kerap kali hal ini menyebabkan pasien harus
kembali pada dokter yang sama untuk memperoleh obat yang sama apabila
peyakit berulang atau belum sembuh. Apakah praktek tersebut etis?
Adakah regulasi yang berkenaan dengan praktek pemberian obat seperti
itu?
Terima kasih atas tanggapannya.
JAWAB IDP:
Obat yang diserahkan kepada pasien harus ada labelnya. Ini wajib secara hukum, dan pasien harus mengetahui komposisinya. Adalah menjadi hak pasien untuk meminta penjelasan mengenai kandungan dan komponen obat yang diberikan.
Pasien BERHAK 100% untuk minta copy resep atas setiap obat yang diterima dari dokter, itu bagian dari PRINSIP PRINSIP PATIENT SAFETY
Regulasi yang ada hanya soal pelabelan obat jadi, tetapi belum ada regulasi tentang pelabelan obat campuran yang diresepkan dokter.

Thanks
IDP

[sehat-SOL] (TANYA) Samsul kepada IDP

Siang Prof,,,

Saya sering mendapati/ membaca resep dokter yg tidak sesuai dengan diagnosa penyakit ( anak ).

Contoh tersering case batuk pilek / common cold diresepkan ambroxol, ventolin, kadang2 ditambah steriod & obat batuk lainnya yg sebenarnya tidak perlu.

Sejauh mana regulasi & proces audit terhadap peresepan dokter bisa diharapkan oleh konsumen ?

Hanya membayangkan berapa triliun yg bisa dihemat rakyat jika semua itu bisa dihindari.

Thanks,
Samsul
[sehat-SOL] [Tanya] Yuli kepada PSP [AB untuk kasus ISPA]

Dear Bunda,
Selama ini masih banyak dokter yang memberikan resep antibiotik untuk kasus ISPA, berdasarkan pengalaman pribadi juga ..alasan dokter adalah untuk menghindari infeksi sekunder, karena takut ada infeksi bersamaan antara virus dan bakteri karena negara kita negara tropis yang pertumbuhan bakterinya cukup tinggi.., yang ingin saya tanyakan apakah benar memang banyak kasus seperti itu, bahwa sering terjadi infeksi bersamaan antara virus dan bakteri, jika iya apa yang membedakan infeksi hanya oleh virus atau adanya infeksi yang lain.

trims..
Re: [sehat-SOL] (Tanggapan) Joko kepada IDP (pemberian obat tanpa label)

On 3/26/2011 2:06 PM, Iwan Dwiprahasto wrote:
>
> JAWAB IDP:
>
> Obat yang diserahkan kepada pasien harus ada labelnya. Ini wajib
> secara hukum, dan pasien harus mengetahui komposisinya. Adalah menjadi
> hak pasien untuk meminta penjelasan mengenai kandungan dan komponen
> obat yang diberikan.
>
> Pasien BERHAK 100% untuk minta copy resep atas setiap obat yang
> diterima dari dokter, itu bagian dari PRINSIP PRINSIP PATIENT SAFETY
>
> Regulasi yang ada hanya soal pelabelan obat jadi, tetapi belum ada
> regulasi tentang pelabelan obat campuran yang diresepkan dokter.
>
Re: [sehat-SOL] (jawab)PSP kepada Anita (AR kepada NS)
Terimakasih Anita
Puyer … Diskusi perihal puyer selalu menarik
Kita bisa seharian berdiskusi perhal puyer dari berbagai aspek

Dari sisi bahasa
Puyer berasal dari bahasa belanda
Secara kasar
Artinya, bubuk, serbuk

Secara historis?
Apakah karena “belanda” lantas ini warisan jaman Belanda?
Konon puyer duluuuuu sekali diperkenalkan di indonesia

Secara medis?
Kini dan duluuuu tentunya banyak berbeda.
Penelitian dalam dunia kedokteran menyebabkan penemuan perihal kesehatan termasuk perihal penyakit, termasuk perihal obat

Secara spesifik … Puyer vs penyakit
Dunia kedokteran sudah sejak lama belajar dan mempraktekkan evidence based medicine
Kedokteran berbasis bukti
Bukan berbasis testimoni (kalau saya makan obat ini rasanya enaaak)
Bukan berbasis pengalaman semata

Nah penelitian sahih yang didisain kuat membuahkan bukti statistik terkait suatu penyakit, suatu obat
Alias guidelines

Guideline itu membantu agar pasien memperoleh management yg appropriate … Tidak overtreatment, tidak undertreated atau mistreated

Puyer dari sudut konsep RUM
Berdasarkan panduan tsb, penyakit umumnya tidk butuh banyak obat
Puyer merupakan gerbang lebar terhadap polifar$masi
Beberapa obat digerus
Padahal yang diperlukan hanya 1 atau 2 obat

Obat juga sudah diteliti sehingga dri berbgai aspek farmakologi ditemukan bentuk terbaik utk setiap obat. Ada yg harus tablet, atau kapsul, atau salut, 4emua ada tujuannya
Jadi ketika semua digerus … Tentunya violating konsep good pharmacy

Mungkin prof Iwan bisa menambahkan

Wati
Patient Safety, first
Re: [sehat-SOL] (TANYA) Samsul kepada IDP
Siang Prof,,,

Saya sering mendapati/ membaca resep dokter yg tidak sesuai dengan diagnosa penyakit ( anak ).

Contoh tersering case batuk pilek / common cold diresepkan ambroxol, ventolin, kadang2 ditambah steriod & obat batuk lainnya yg sebenarnya tidak perlu.
JAWAB:
Itu semua sangat tidak rasional. Ambroxol tidak menunjukkan kelebihan manfaat berdasarkan uji klinik yang valid. Pada anak, justru tidak dianjurkan karena salah satu efek samping yang sering adalah mulut kering dan seperti kerongkongan tercekak (bukan tenggorokokan)
Jangan pernah mau menerima steroid, karena lebih besar risikonya daripada manfaatnya. Mintalah diganti dengan non-steroidal antiinflammatory drugs (NSAID), seperti ibuprofen, yang lebih aman untuk anak dan kemanfaatannya terbukti baik.

Sejauh mana regulasi & proces audit terhadap peresepan dokter bisa diharapkan oleh konsumen ?
JAWAB IDP:
Hingga saat ini tidk atau belum ada kewajiban untuk melakukan audit peresepan, apalagi hampir 70% masyarakat masih membayar obat dari kantongnya sendiri (out of pocket). Yang bisa mengatur itu nanti adalah sistem pembiayaan pelayanan kesehatan (managed care) atau sistem asuransi, karena dokter hanya akan boleh meresepkan obat-obat yang ada dalam daftar mereka

Hanya membayangkan berapa triliun yg bisa dihemat rakyat jika semua itu bisa dihindari.
JAWAB IDP:
Tepat sekali pernyataan Saudara. Kita sudah terlalu banyak menghamburkan biaya untuk penggunaan obat yang tidak diperlukan

TERIMA KASIH
IDP
Thanks,
Samsul
Re: [sehat-SOL] [TANYA] Joko Kepada IJ [ Pers dan “”industrio-medical-complex”?]
Pak Joko yb,

Di dunia pers, isu kesehatan sering dianggap tidak seksi. Kalah dibanding
isu politik, ekonomi, olahraga. Namun belakangan, dengan meningkatnya
kesadaran masyarakat akan kesehatan, karena menyangkut kualitas hidup
kita, maka liputan dan laporan masalah kesehatan menjadi cukup menarik
perhatian. Kan ada ungkapan “Kesehatan bukan segalanya, tapi segalanya
bukan apa2 tapa kesehatan”. Sekarang tinggal bagaimana melaporkan/menulis
isu kesehatan itu menjadi menarik dan menyangkut kepentingan
pembaca/pendengar/pemirsa.

Tidak benar jika hanya Kompas yang kritis pada masalah kebijakan kesehatan
khususnya penggunaan obat secara rasional, harga obat yang mahal dll.
Saya kebetulan beruntung mulai terpapar pada isu ini sejak tahun 1983
ketika untuk pertama kali ditugaskan mengikuti Lokakarya Kejahatan
Industri Farmasi di Penang, yang diadakan oleh IOCU (International
Organization of Consumer Unions). Di sana mata saya terbuka betapa
innustri farmasi menjadikan “bisnis kesehatan” dengan “mengontrak” para
dokter dengan memberi komisi, gratifikasi, dll> Ada sebuah film dokumenter
“Healthy Business” buatan Belanda, menginvestigasi praktik “kongkalikong
industri farmasi-dokter di Filipina. Praktik ini ternyata terjadi juga di
Indonesia. Dan ini terjadi hingga kini, bahkan yang semula dilakukan oleh
industri farmasi PMA beralih ke PMDN atau swasta nasional dengan tingkatan
kecanggihan yang mencengangkan. Betapapun, industri farmasi adalah entitas
bisnis, mereka mencari untung. AKhirnya kerasional pereswepan obat
terpulang pada hati nurani dan pengetahuan para dokter. Nasib pasien yang
ditentukan pena dokter memang rawan disalahgunakan oleh para dokter.
Pasien atau konsumen tak punya hak pilih thd obat ethical yg diresepkan
dokter, berbeda jika kita membeli HP, komputer, televisi, rumah dll.

Nah, tugas saya sebagai wartawan hanyalah menjadi watch dog, mengingatkan,
sambil mendidik masyarakat/konsumen agar menjadi konsumen yang cerdas.
Karena selama kita masih membayar jasa dokter dan membeli obat dengan
merogoh kantong sendiri (fee for service), maka praktik “industrio-medical
complex” akan terus berlangsung.

Kompas beruntung punya penulis produktif seperti dr Kartono Mohamad dan dr
Handrawan Nadesul.
Saya bukan apa2 dibanding mereka. Seyogyanya akan lebih banyak wartawan
muda yang mau spesialisasi bidang kesehatan, yang dapat “memberi wajah
manusia” pada suatu penyakit seperti AIDS dll, dan menjadi aktivis/advokat
yang tidak bisa dibeli oleh industri farmasi.

Salam,
ij
[sehat-SOL] [TANYA] Nia kepada NS [Kultur dgn hasil tidak ada pertumbuhan bakteri]

Kepada Yth. Nara Sumber
Ada sedikit ganjalan ketika saya kerja, yaitu soal pemberian AB injeksi.
Yaitu ketika hasil kultur ‘tidak ada pertumbuhan bakteri’ atau ‘bakteri tidak berkembang’, or bahkan kemarin hasilnya ‘tidak ada pertumbuhan bakteri, ditemukan jamur’ tetapi AB meronem/ levofoxacin/ceftazidim inj.
Yg aku mau tanyain adalah, apakah AB yg diberikan tersebut tetap rasional atau tidak ya?
Terimakasih…

peace ‘n love

n!@
[sehat-SOL] [Tanya] Lulu kepada NS [Anak 4th Hasil Labnya Kolesterol Tinggi dan Trombosit Tinggi]

Dengan Hormat,

Anak temen saya cowok namanya rafiq umurnya 4 tahun, sakit diawali dengan diare, kemudian diare sembuh tapi badannya kemudian bengkak-bengkak, sudah seminggu ini seluruh badannya bengkak,pipisnya tidak lancar dan tanpa demam. diagnosa sebelum cek laboratorium yaitu radang ginjal. tapi hasil tes urin menunjukkan ginjalnya tidak bermasalah. setelah cek darah hasilnya kolesterol 577 dan trombosit 745 ribu. sudah disuruh rawat inap tapi belum ada diagnosa yang jelas. menurut penjelasan dokternya ini kasus langka terjadi hanya 1 pada 1000 anak. benar kah demikian ? apa yang harus dilakukan agar pengobatannya tetap rasional ? perlukan dilakukan cek laboratorium ulang ?

terimakasih
lulu
Re: [sehat-SOL] [Tanya] Lulu kepada NS [Anak 4th Hasil Labnya Kolesterol Tinggi dan Trombosit Tinggi] => WARNING MODERATORS
On 3/26/2011 2:17 PM, luchan wrote:

Dengan Hormat,

Anak temen saya cowok namanya rafiq umurnya 4 tahun, sakit diawali dengan diare, kemudian diare sembuh tapi badannya kemudian bengkak-bengkak, sudah seminggu ini seluruh badannya bengkak,pipisnya tidak lancar dan tanpa demam. diagnosa sebelum cek laboratorium yaitu radang ginjal. tapi hasil tes urin menunjukkan ginjalnya tidak bermasalah. setelah cek darah hasilnya kolesterol 577 dan trombosit 745 ribu. sudah disuruh rawat inap tapi belum ada diagnosa yang jelas. menurut penjelasan dokternya ini kasus langka terjadi hanya 1 pada 1000 anak. benar kah demikian ? apa yang harus dilakukan agar pengobatannya tetap rasional ? perlukan dilakukan cek laboratorium ulang ?

terimakasih
lulu
Mohon maaf Ibu sesuai netiket :

6. Peserta dilarang mengajukan pertanyaan dan atau menggunakan forum ini untuk konsultasi perihal kesehatan anaknya.

Mohon untuk dimengerti

Terima kasih

Salam
Moderator-Ghozan
Re: [sehat-SOL] [TANYA] Joko Kepada IDP [Praktek persepan “abuse”?]

Apakah ada regulasi dari pemerintah terkait dengan peresepan?
JAWAB:
Tidak ada regulasi mengenai peresepan. Peresepan obat adalah bagian dari kompetensi dan otoritas dokter. Pendidikan tentang menulis resep yang baik dan rasional memang diajarkan di FK-FK.

[sehat-sol] [tanya] RD kepada IDP tentang penggunaan dan peredaran obat palsu

dear prof,
beberapa apotik menberikan informasi: “GARANSI OBAT ASLI” atau HATI-HATI OBAT PALSU. Bagaimana agar konsumen terhindar dari penggunaan obat akibat peredaran obat palsu yang ternyata menawarkan harga yang terjangkau dibandingkan obat asli yg harganya lebih mahal?
terima kasih
Re: [sehat-SOL] [TANYA] MKP kepada NS [bagaimana implementasi penerapan RUM secara konkrit dan terintegrasi kepada seluruh lapisan masyarakat?]

saya ingin bertanya, mengenai bagaimana sebaiknya / idealnya penerapan RUM dilaksanakan secara konkrit (mekanisme secara struktural dan menyeluruh) dan terintegrasi di semua kalangan masyarakat?

JAWAB IDP:
Memang tidak mudah, harus ditanamkan sejak pendidikan di FK untuk dokter, dokter muda, pendidikan spesialis, hingga forum-forum yang diselenggarakan oleh kolegium masing-masing bidang spesialisasi

Kontrol sosial menjadi penting, antara lain masyarakat, yang harus mulai bertanya tentang obat yang diperoleh dari dokter.

Implementasi Sistem pembiayaan melalui asuransi atau managed care, terbukti juga banyak bisa mengendalikan praktek-2 penggunaan obat yang tidak rasional

hal apa saja yang dapat dilakukan oleh kami, masyarakat awam yang tidak bertitel sebagai tenaga medis, untuk menyebarkan visi dan misi dari penerapan RUM? terutama berbagi pengetahuan dengan mereka yang mungkin belum atau kurang melek informasi karena himpitan ekonomi, dll?

JAWAB IDP:
Perlu mengajarkan kepada masyarakat agar menjadi smart patient, karena apapun obat yang diminum dan digunakan akan berdampak pada tubuhnya. Jadi pasien berhak 1000% untuk mengetahui apa saja terkait obat yang diminumnya.

Terima kasih

IDP
terima kasih atas waktu dan penjelasannya 🙂
mohon maaf apabila ada ucapan yang kurang berkenan

[sehat-SOL] discussion in English

Hi, I am Tan Ee Lyn, a health journalist with Reuters. I am happy to discuss any related questions you may have
[sehat-SOL] (TANYA) Indah kepada semua NS
Dear Bunda Wati, n Bapak2..

Pertanyaan 1:
Untuk masyarakat menengah ke bawah apakah ada program utk edukasi dan me RUM kan mereka.
Karena meskipun mereka tidak mampu utk ke dokter mereka bisa jadi tidak menjadi sasaran polifarmasi, namun masih beredar obat2an bebas spt diapet utk diare, procold utk flu, antangin dsb..

Pertanyaan 2:
Apakah tidak ada pembatasan dan aturan pemerintah utk obat2an tsb.

Terima kasih, mohon maaf jika kurang berkenan,

Indah Suciati, Hewlett Packard, mobile: 0811917186
[sehat-SOL] (TANYA) Anggia kepada IJ & IDP (Toko obat dan Obat Resep tanpa brosur komposisi)

Dengan Hormat,

Kepada IJ:
Toko obat (bukan apotik) bertebaran dimana-mana. Tidak hanya menjual OTC tapi juga AB yang pembeliannya haruslah dengan resep dokter. Apakah pemerintah memang melegalkan praktek toko obat ini? Kalau tidak, apakah media masa bisa mengangkat isu ini agar tidak semakin merajalela?

Kepada IDP:
Seringkali apotik atau farmasi RS menyerahkan obat atas resep dokter tanpa mengikutsertakan leaflet informasi kandungan obat. Sejauh mana kontrol dari pihak terkait thd operasional bagian farmasi ini?

Terima kasih

-ANggia-
Re: [sehat-SOL] [jawab] PSP kepada Joko [Kenapa polifarmasi terus terjadi?]

Dik Joko yang baik

Terimakasih atas atensi nya, dan semangatnya

Semangat pasien cerdas

Anti polifarmasi? Boleh ralat sedikit?
Lebih tepatnya, pro pengobatan yang rasional (catatan: pola pengobatan yg rasionl alias rational use of medicine alias rum)

Kenapa pola pengobatan harus rasional?
1. Agar layanan etis, adil (equity),
2. Agar layanan cost effective
3. Efisien dg good outcome

Bagaimana caranya?
Based on evidence
Common cold misalnya
Atau influenza misalnya
Demam nya tinggi, batuknya heboh, pake muntah pula, bab nya agak cair

Lalu?
Butuh berapa obat?
1, 2, 3, Atau 11 seperti penelitian pola peresepan kami?

Ispa (penyebabnya virus) tidak butuh banyak obat
Cukup parasetamol kalau demam
Pluis ORS kalau diare

Akhir kata
Satu obat sekalipun, ketika tidak dibutuhkan … Itulah polifarmasi

Tetapi kalau diabet, ada gagal jantung, ada teknan darah tinggi,
Memang butuh bbp obat

Jadi …
Diagnosis, evidence based guideline, management

Wati
Patient Safety, first
[sehat-SOL] (Tanya) Nana kepada NS

Dari: Fransiska Febriana

Tambah ke Kontak
Kepada: sehat-seminar@yahoogroups.com
________________________________________
Saya bekerja di perusahaan yang secara berkala selalu ada audit oleh badan independen baik dari sisi keuangan, proses kerja, K3 (Kesehatan, Keselamatan, Kerja)

Pertanyaan :
Apakah sudah ada Rumah Sakit yg sudah menjalankan sistem audit oleh badan independen?

Demikian, mohon maaf bila tidak berkenan

Nana
Re: [sehat-SOL] [TANYA] Alifah Kepada IJ [Peran media dalam mendorong revolusi obat generik]
Bu Alifah yb,

Terlalu tinggi jika berharap media bisa melakukan segala hal. Bahwa
membentuk opini publik dan mendidik masyarakat serta mengontrol hal2 yang
tak beres (seperti kasus Prita dan sebuah rumah sakit) itu memang fungsi
dan tugas media. Namun penentunya adalah sikap proaktif masyarkat sendiri,
dan kini kan sudah berkembang citizen journalism. Warga masyarakat bisa
menyuarakan pendapat lewat kolom opini, atau surat pembaca, atau jejaring
sosial. Dampaknya terbukti juga bisa luar biasa.

Tentang kesalahkaprahan yang sudah laten seperti soal puyer, seyogyanya
disuarakan terus, dan muaranya harus ke arah perubahan kebijakan publik
hingga ke legislasi. Kalau perlu mulai juga dengan litigasi seperti kasus
Prita. Di AS, litigasi soal korban rokok (kasus kanker paru, emfisema dll)
telah menarik perhatian publik dan media sehingga habitus merokok dan
praktik promosi rokok di negeri itu sama sekali mengalami perubahan.
Konyolnya, industri rokok multinasional kemudian menyerbu Indonesia yang
hingga kini adalah “surga para perokok dan industri rokok”. Ayat tembakau
dalam RUU Kesehatan pun bisa disulap hilang!

Jadi kuncinya adalah masyarkat sendiri harus menjadikan suatu isu sebagai
diskursus dan debat publik. Media hanyalah amplifier.

Salam,
ij
[sehat-SOL] (Tanya) NKM kepada PSP (cara mensosialisikan peran masyarakat dalam mewujudkan layanan kesehatan yg terbaik)
Dh.
dr Purnamawati

Membaca makalah dokter, banyak hal menarik yang banyak juga baru saya sadarin setelah membaca makalah tersebut.

Memang seharusnya masyarakat berperan aktif, tp masalahnya bagaimana mau berperan kl peran sebagai apa tdk jelas/tdk dipahami oleh masyarakat.
Contoh :
•Apa yang dimaksud konsultasi medik ?
•Kelirumologi apa yang seharusnya dihindari oleh konsumen kesehatan –baca : hak apa yang seharusnya berhak digunakan oleh konsumen kesehatan- ? (bhw konsumen kesehatan berhak menanyakan diagnosis medis, indikasi apa sehingga dilakukan pemeriksaan tsb, dll).

Bagaimana masyarakat diharapkan berperan untuk care thdp konsultasi medik dan diagnosis medis jika masyarakat tdk memahami tdk merasa perlu tau ttg hal ini (seperti beberapa waktu lalu di milis ada yg bertanya tentang masuk angin, dan dijelaskan bahwa masuk angin bukan diagnosis medis; si penanya dengan santai berkata ÿa kan saya bukan dokter, saya awam, pakai istilah yang familiar di kalangan awam dong!)

Kalau mengharapkan join di milis sehat susah al keluhannya seperti ini tll banyak imel inbox jadi penuh, mengharapkan buku Q&A juga susah keluhannya ketebalan susah baca; usul nih
Mungkin gak ya summary dari makalah itu dikutip sebagai bagian dari buku kesehatan anak?
Kenapa terpikir buku kesehatan anak karena ini rasanya yang paling umum yang otomatis dimiliki oleh semua bayi. Tidak perlu terlalu detil sekedar garis besarnya (seperti apa yang dimaksud RUM? Apa yang seharusnya terjadi saat ke dokter?). Dijadikan standar harus ada di buku kesehatan anak seperti jadwal imunisasi, growth chart, tahap perkembangan bayi…itu kan sudah jadi standar ya di buku kesehatan anak.

Jadi kl konsumen kesehatan berhadapan dengan dokter yang defensif atau jika sesama konsumen kesehatan berdiskusi bisa menggunakan pedoman yang sama bisa menggunakan panduan di buku kesehatan anak tersebut. Tidak seperti sekarang yang untuk berdiskusi saja susah karena konsumen kesehatan yang 1 berpendapat itu mah ranahnya dokter, konsumen kesahatan yang lain berpendapat itu hak kita lho.

Mungkin usulan untuk standar di buku kesehatan anak kurang tepat disampaikan ke dr Purnamawati, kl sekiranya kurang tepat, bisakah dijelaskan kira-kira proses apa yang harus dilakukan sampai sesuatu hal itu bisa dicantumkan di buku kesehatan anak?

Thanks
Nancy K. Margono
[sehat-SOL] (TANYA) Dhani kepada IDP
Siang Prof,
perkenalkan nama saya Dhani dari Surabaya,
saya hanya ingin menyampaikan uneg uneg seputar permasalahan pengobatan yang dipahami selama ini oleh masyarakat pada umumnya. Kurang lebih, masyarakat cenderung kurang informasi dan pendidikan akan pemahaman pengobatan yang cerdas. mereka cenderung lebih mengikuti trend, mengikuti omongan orang tua yang mempunyai paradigma lama, mengikuti iklan, dan bahkan dokter dokter yang (mohon maaf) entah itu kapitalis atau memang dokternya sengaja menjerumuskan. sehingga banyak juga pasien pasien yang sakit ringan malah jadi tambah sakit keras, harusnya cuman dikasi obat A, tapi harus beli obat A dan B ditambah suplemen C. Salah satu contoh yang masih saya ingat, ada dokter yang tidak menyarankan pasiennya menyusui ASI, dia malah menyuruh susu formula! itu hanya di seputar susu saja, belum yang lain lain.
Nah, sekiranya, apa ada upaya dari kalangan dokter ‘cerdas’ atau komunitas, yang mendorong dan mengajak pemerintah untuk membuka ‘tutup plastik’ yang ada dikepala masyarakat. khususnya masyarakat dikalangan menengah kebawah. kita butuh sosialisasi yang kongkrit, tidak pandang bulu, dan tidak peduli siapa yang menghalangi, yang penting masyarakat harus disadarkan, terlebih keluarga kita sendiri, orang tua kita, tetangga kita. terima kasih prof, semoga ada pencerahan disini.
Re: [sehat-SOL] (TANYA) Anggia kepada IJ & IDP (Toko obat dan Obat Resep tanpa brosur komposisi)

Kepada IDP:
Seringkali apotik atau farmasi RS menyerahkan obat atas resep dokter tanpa mengikutsertakan leaflet informasi kandungan obat. Sejauh mana kontrol dari pihak terkait thd operasional bagian farmasi ini?
JAWAB IDP:
1. Leaflet atau package insert adalah HAK PASIEN. kalau ada apotek yang tidak menyerahkan ke pasien, itu dianggap PENCURIAN dan MENYEMBUNYIKAN Hak pasien. Jadi pasien harus minta package insert atau leaflet yang tersedia di masing-masing obat. Hanya saja untuk obat tablet, kapsul dsb yang non sirup, jumlah package insertnya terbatas, hanya SATU untuk setiap SATU DOS.
2. Undang-undang yang mengatur tentang pelayanan kefarmasian sudah sangat tua dan memang perlu diganti/diperbaiki, dan saat ini sedang dalam pengembangan. Kita tunggu saja apakah akan semakin melindungi konsummen atau malah hanya melindungi apotek dan industri farmasi.

Thanks
IDP

Re: [sehat-SOL] [jawab] kepada Joko [Kenapa polifarmasi terus terjadi?] Sambungan

Kenapa polifarmasi terus terjadi?

Banyak faktor!
Kalau iseng2 jalan2 di situsnya WHO, cari RUM
Cari good prescribing practice
Kita akan paham ternyta keputusan meresepkan obat (oleh dokter) dipengaruhi banyak hal

Pendidikan
Regulasi
Budaya
Sosial ekonomi
Dst dst dst

Mungkin sudah waktunya tenaga medis dan masyarakatnya mulai merenung
Berkenan berdiri di luar zona nyamannya untuk introspeksi

Berkenan berdiri di luar zona tsb untuk mengakui
Bahwa …
Memang ada kondisi … Lost in translation

Ke”gagalan” menerjemahkan pengetahuan ke daily practice

Wati
Tampaknya …
Patient Safety, first

kayanya itu masih ada sebagian lain deh, tapi entah kenapa ga saya terusin…
Sekarang saya keluar “sementara” dari milis ini, karena traffic-nya lumanyyaaaan ya padat merayap..tiap menit notifikasi bb berbunyi. Secara saya dagang juga, jadi ramelah notifikasi bersahut-sahutan. Tetep berterimikisi banget buat milis yg menemani hari-hari batpil, demam, ruam dan P3K anak2…^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s