Letter to : Sarah Almira Hakim

Sarah Almira Hakim, 13 Agustus 2010 (3 Ramadhan 1431 H), Pkl. 07.38 WIB

Sarah, perkenalkan…
Ini Bunda…
Bunda yang selama 40 minggu mengandungmu…
Bunda yang melahirkan Sarah secara Caesar…
Bunda yang sekarang dan sampai tetes terakhir, akan terus menyusuimu…

Sarah,
Bunda dan Abu bersyukur sekali pada Alloh SWT yang sekali lagi memberikan kami titipan bayi mungil. Kami namai dirimu SARAH ALMIRA HAKIM. Sarah itu istrinya Nabi Ibrahim, dan menurut seorang Ustadz, Alloh SWT menciptakan satu laki-laki tertampan yaitu Nabi Yuusuf (namanya Abang yah…^^) lalu menciptakan juga satu wanita tercantik yaitu Sarah. Almira artinya putri yang mulia. Hakim ya nama belakang Abu.

Subhanalloh, Sarah memang cantik sekali. Bunda ga bosan memandangi Sarah setiap waktu. Persis seperti Abang, yang walaupun sudah umur 1 tahun 8 bulan tapi terus bertambah ganteng. Kalian berdua permata hati Bunda, belahan jiwa Bunda, semoga sampai seterusnya kalian rukun menjadi Abang-Adik yah. Abang sayang sekali sama Sarah. Sarah suka diciumin, dipeluk, diusap-usap kakinya sama Abang.

Sarah,
Waktu hamil Bunda sudah masuk 40 Minggu, niat dalam hati dan ikhtiar untuk bisa melahirkan normal sudah dilakukan, tapi semuanya tergantung ketentuan dari Alloh, akhirnya Bunda di operasi juga. Pre operasi itu sangat sangat menyebalkan anakku. Mulai dari ambil darah buat tes lab, tes alergi obat, pasang infus, kateter, pokoknya semua yang berhubungan dengan jarum menyebalkan.

Tapi semua harus dijalani dengan senang hati, karena ini semua buat menyambut kedatangan Sarah ke dunia. Masak, Sarah dateng, Bunda malah bete…ga mungkin lah yaaa… jadi walaupun pasang infus ampe gagal 4X dan tangan Bunda sampai bengkak, Bunda tetap jalani semua dengan tenang. Apalagi support dari Abu, Nenek dan Eyang sangat besar. Mereka jadi Tim Siaga, dari dulu waktu Abang lahir sampai sekarang waktunya Sarah lahir.

Jum’at, 13 Agustus 2010 jam 07.38 WIB Sarah lahir ke dunia. Subhanalloh, tangismu kencang sekali. Bunda hanya bisa menangis, karena pasrah tergolek di meja operasi. Alhamdulillah Sarah lahir sehat dan sempurna. Lupa sudah Bunda dengan segala perih dan luka pre operasi. Bahkan semangat semakin tinggi untuk bisa cepat pulih sesudah operasi. Lucunya, Sarah BB dan TB nya persis sama Abang Umar. BB 2,9 kg dan TB 48 cm. Kalian kompakan yah? ^_^

Setelah lama di ruang pemulihan, akhirnya Bunda dipindahkan ke ruang rawat. Tapi Sarah belum juga diantar ke Bunda. Duh, padahal mau mulai belajar menyusui kan ya? Alhamdulillah 6 jam setelah operasi, ternyata lukanya tidak sesakit yang pertama dulu. Bunda langsung bisa belajar duduk dengan disanggah. Ketika pada akhirnya Sarah diantar ke Bunda, langsung deh kita berdua BERPELUKAAAN… pelan-pelan belajar menyusui, daaaannn…ternyata Bunda tetap harus mengulang pelajaran menyusui lagi. Gejala mastitis menyerang. Latch-on gagal terus, puting semakin nyeri. Ya Alloh, harus tetap menyusui. Walaupun Abu udah siapin breast pump, tapi itu udah 2 hari yang lalu disterilnya. Jadi mau ga mau, hajar terussss…

Tapi senengnya kita rooming-in terus ya nak. Semalaman kita bertiga tidur bareng. Sarah rewel, mungkin karena ruang rawat Bunda dingin. Kasian tetangga pasien sebelah terganggu. Tapi namanya juga ASI Eksklusif, ga mungkin mondar-mandir dibalikin ke Ruang Bayi.

Well, 3 hari saja kita di RS ya nak. Dokter bilang hari Minggu boleh pulang. Alhamdulillah, senangnya. Sampai di rumah, disambut senyum lebar Abang Umar yang baru selesai mandi sore sama Eyang. Bunda sempat berpikir, hmmmm…mulai deh acara begadang kita. Tapi ternyata oh ternyata… Sarah koq anteng banget. Bahkan pipis aja ga bangun. Walhasil, minum ASInya kurang karena Sarah bobo bisa lempeng 5 jam. Bunda sih seneng-seneng aja karena istirahat banyak. Tapi tetap waspada kata Abu, karena kurang minum bisa kuning. Alhamdulillah, engga ya nak, Sarah tetep sehat wal’afiat. Malah kemarin waktu imunisasi BCG, Sarah beratnya udah naik dari 2,9 kg jadi 3,2 kg. Pipinya juga sekarang tambah tembem….bikin Bunda pengen gigitsss….

Pastinya ASI tetap akan jadi makanan dan minumanmu selama 6 bulan ke depan. Kalau gejala mastitis udah sembuh, acara menyusui kita pasti jadi sangat menyenangkan. InsyaAlloh cobaan mastitis itu ga akan menggoyahkan semangat Bunda untuk tetap menyusuimu. Lah, kalo gudang makanannya ditutup, nanti Sarah mau makan apa? Dari belum menikah Bunda udah membekali diri untuk Say No to Susu Formula. Sekarang udah punya anak 2 dan berbekal pengalaman menyusui Abang Umar, hmmm, I’m ready for everything.

Anakku Sarah,
Kamu lahir di Bulan penuh berkah nak, Bulan Ramadhan. Seperti halnya Ramadhan, Sarah juga merupakan berkah tak ternilai untuk kami. Doa Abu dan Bunda akan selalu menyertai Sarah dan juga Abang Umar, agar kalian menjadi putra-putri yang sholeh dan sholehah, yang selalu menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya, selalu melangkah dalam ridho Alloh dan yang pasti semoga kelak kita pun menjadi keluarga yang utuh di surga Alloh.

Sekarang, Jum’at, 3 September 2010, Sarah sudah berusia 3 minggu.
Ramadhan juga sebentar lagi berakhir. Nothing special untuk menyambut lebaran 1431H ini. Ga bikin kue , ga beli baju baru, bahkan bulan puasa ini ga satu kalipun Bunda sempet ngerasain ngabuburit (lah, puasa aja engga…kan Bunda masih nifas.hehehe…). Tapi jangan salah, bukan berarti ga ada yang berbeda. Ramadhan tahun ini, anak Bunda udah 2 orang. Satu laki-laki, satu perempuan. Ini nikmat, rezeki, berkah dari Alloh SWT yang tak ternilai.

Dulu ya nak, setelah Abu menikahi Bunda 1 tahun, dan juga belum dikaruniai anak, Bunda sempat berobat ke dokter. Memulai terapi kesuburan demi cepat mendapatkan keturunan. Mulai dari minum obat hormon sampai melakukan hidrotubasi (penyemprotan ke arah saluran rahim untuk melihat ada penyumbatan atau tidak) Rasanya???? Mmmhh, mantap. SAKIT! Tapi namanya juga “Demi”…dibela-belain deh. Lalu tiba-tiba datang vonis dokter yang menyatakan Bunda “unovulasi”, keadaan dimana sel telur tidak bisa membesar di saat masa subur, sehingga ada kesulitan untuk dibuahi. Masya Alloh, kalau begini terus apa ga gawat tuh??? Hmmm…mulai deh masa-masa penantian, yang sebenernya kalo kata orang sih ga lama-lama banget. Bunda dan Abu dikasih ujian penantian selama 1 tahun 8 bulan saja. Banyak loh yang lebih lama dari itu dan tetap sabar menanti. Akhirnya, Alhamdulillah, setelah dokter men”double”kan dosis obat hormonnya, jadi deh Bunda “mandeg” sampai bisa lahir si Abang Umar nan ganteng.

Nanti kalau Sarah sudah besar dan InsyaAlloh akan menjadi Ibu, Bunda doakan jalannya selalu lancar, tanpa masalah berarti. Untuk itu, Sarah harus pandai merawat diri dan terpenting menjaga diri. Suatu hari nanti di masa depanmu, sepertinya dunia akan lebih gila dari sekarang. Hanya kepada Alloh kita berlindung. Bunda dan Abu akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga titipan Alloh pada kami,

I will end up this letter with comma, coz I still have many things to say ahead.

Bunda Lita loves Umar n Sarah always,

Advertisements

2 thoughts on “Letter to : Sarah Almira Hakim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s