1 year old Umar … … …

ini older post yang mau diikutsertakan lomba di http://femaledaily.com/showthread.php?p=2548904#post2548904

hihihi, ikut lomba segala buun.. yah, nyoba2 ajah, kalopun ga menang, mungkin bisa menginspirasi yang lain buat tetep ngASI. Semua isi tulisan ga diedit. Murni pengalaman ter-gress saat itu, sedihnya, senangnya, semua jadi satu. ASI It’s worth fighting for.

 

Waduh, mau posting ga sempet-sempet nih…tapi walaupun waktunya dah lewat, masih tetep ada sekelumit ilmu untuk di share.

Umar anak Bunda,
Setelah menunggu 1 tahun 8 bulan untuk dapat memilikimu, Alhamdulillah selepas adzan Ashar, tanggal 16 Desember 2008, Umar lahir melalui operasi caesar dengan berat badan 2,9 kg dan tinggi badan 58 cm. Abu dan Bunda namai Yuusuf Umar Hakim (terinspirasi dan juga do’a agar kelak dirimu dapat menjadi lelaki sholeh, tampan dan pemberani).

Ada tangis bahagia dan kecewa. Bahagia karena akhirnya Bunda bisa menatap wajah mungil yang selama 40 minggu lebih 3 hari ada di perut Bunda, sekaligus kecewa karena permohonan Bunda untuk bisa langsung IMD (Inisiasi Menyusui Dini) tidak dikabulkan. Dalam keadaan menggigil kedinginan, menunggu selesai proses penutupan bekas operasi, Bunda tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa pasrah karena dokternya takut bayinya nanti kedinginan. Oke lah proses IMD tidak berjalan, tapi Bunda yakin proses Rooming in dan ASI Eksklusif pasti BISA!

Tapi, Alloh berkehendak lain. Malam saat Bunda sudah istirahat di kamar, Umar dibawa masuk untuk disusuin. Karena tadi sore ga sukses IMD, kata Abu coba menyusunya dilepas bajunya, jadi skin to skin contact, biar bisa belajar nyusu. Tapi ternyata Umar menggigil, ga kuat dinginnya AC di ruangan Bunda. Karena nafasnya cepat dan berbunyi, Abu langsung bawa Umar masuk NICU untuk minta dihangatkan. Tapi, ternyata itu awal dari 2 minggu berikutnya yang penuh ketegangan. Di inkubator, Umar berjuang menahan sakitnya di tusuk jarum infus, di tempeli kabel – kabel untuk deteksi detak jantung yang tersambung dengan 2 monitor besar, belum kepalanya di tutup helm kaca transparan untuk oksigen. Ya Alloh….ada apa dengan anak Bunda? Apa ini hanya prosedur biasa untuk inkubator? Atau memang Umar sangat membutuhkan semua alat ini?

ASI terpaksa Bunda pompa, karena tidak boleh menyusui langsung. Sambil menahan sakit karena efek obat bius sudah hilang, Bunda tetap berusaha memompa ASI. Abu, Nenek dan Tante Iip sangat berjasa membantu Bunda melalui saat – saat berat memompa ASI untuk pertama kali. Bunda hanya bisa mengeluarkan 20 ml. Tapi kita semua ga ada yang patah semangat. Abu rajin hampir setiap beberapa jam sekali, bolak balik NICU untuk memberikan botol ASIP kepada perawat, untuk diberikan ke Umar melalui selang yang langsung masuk ke tenggorokan.

Setelah 3 hari, dengan berat hati Bunda harus pulang ke rumah duluan, karena Umar masih harus observasi dan belum boleh pulang. Sedihnya Bunda, ketika sampai dirumah ada tetangga yang sengaja menghampiri karena mengira Umar juga ikut pulang. Biasanya orang rumah menyambut dengan sukacita kedatangan anggota keluarga baru, tapi waktu itu semua hanya terdiam lesu. Sedih mengingat Umar masih di Rumah Sakit hanya ditemani perawat.

Setiap hari Bunda tetap pompa ASIP, semakin hari ASIP semakin banyak. Dalam 1 kali pompa, Bunda bisa dapat lebih dari 500 ml. Freezer penuh dengan botol ASIP beku. Sampai perawatnya juga melarang Bunda menaruh ASIP lagi di RS, karena mereka juga sudah tidak tertampung lagi. Alhamdulillah, walaupun hati sedih remuk redam, tapi produksi ASIP tidak menurun, karena selalu positive thinking bahwa hanya ASI lah makanan terbaik untuk daya tahan tubuh anak Bunda yang sedang berjuang untuk sembuh. Setiap hari juga Bunda dan Abu bergantian datang menemani Umar. Saudara, Teman, Kerabat semua datang menjenguk untuk mendoakan kesembuhan Umar. (….Terima kasih atas doa dan supportnya ya…*red. Bunda)

Di malam hari, apalagi waktu itu hujan lebat (hati makin mellow…) Bunda dan Abu hanya bisa saling berpelukan sambil masing-masing berdoa agar Umar bisa cepat sehat kembali dan bisa pulang ke rumah. Tapi, terkadang kami dikagetkan oleh telpon dari rumah sakit yang mengabarkan Umar butuh persetujuan orangtuanya karena akan diberikan antibiotik dosis tinggi dengan harga selangit, atau mengabarkan Umar butuh transfusi darah malam itu juga. Bunyi telpon di tengah malam menjadi hal yang sangat mengerikan di kuping Bunda.

7 hari Umar dirawat, Abu dan Bunda di rumah mengadakan Aqiqah. Beberapa Saudara datang kerumah. Semua keperluan Aqiqah diurus nenek dan Eyang karena Bunda 100% konsentrasi ke Umar.

Total, 14 hari Umar dirawat. Menghabiskan biaya yang Subhanalloh jumlahnya. Alhamdulillah masih ada Nenek yang ikhlas membantu kucuran dana segar (love you Mom!!!) untuk kesembuhan cucu pertamanya. Ketika akhirnya diperbolehkan pulang…Wuihhh…senangnya Bunda dan Abu membawa anggota keluarga baru ke rumah kami. Semua sukacita, semua gembira. Bunda belajar menyusui Umar langsung, sambil mandi keringat, menahan sakit bekas operasi, dan yang pasti begadang oh begadang.

Kamar untuk Umar sudah dipersiapkan. Dengan nuansa biru, berisikan 1 box bayi, 1 baby taffel, 1 lemari baju, beserta perlengkapan bayi lainnya. Kamar dibuat hangat, mirip-mirip kondisi di incubator (29-30°). Pffiiuuhhh…Bunda makin berasa di Sauna aja. AC adalah musuh kita saat itu. Apalagi Desember masih musim hujan. Kadang kalau Umar tidur, Bunda curi2 tidur di kamar sendiri, buat ngadem.

Semua serba pertama kali…
Pertama kali seharian bahkan dua harian ga tidur-tidur, pertama kali memandikan bayi, belajar menyusui sambil tiduran supaya Bunda bisa ikut istirahat, kehebohan menyusui karena puting lecet atau punggung terlalu pegal…Saat-saat itu indah sekali. Yang pasti takkan terulang untuk kita berdua.

Belum puas rasanya Bunda cuti 5,5 bulan menemani Umar di rumah. Ketika saatnya masuk kantor, berat sekali hati ini meninggalkan Umar diasuh Eyang Papa (karena Nenek Mama belum pensiun). Apa Papa bisa urus anak bayi ? Bagaimana kalau rewel sampai nangis ga berenti-berenti? Bagaimana kebersihan ganti popok dan mandinya? Tapi syukurlah, Umar anak sholeh dan Papa terbukti Eyang Siaga (Love you Pa!!!), semua berjalan cukup baik sampai akhirnya Nenek Mama pensiun dan bisa ikut menemani menjaga Umar.

Sampai di umur 6 Bulan,berat badan 8,2 kg, tanggal 16 Juni 2009, Hooray…Lulus jadi Sarjana ASI Eksklusif !!! Senangnya Bunda dan Abu. 6 bulan sudah Umar mengisi tubuh dan otaknya dengan cairan terbaik, yaitu ASI. Makanan terbaik untuk anakku. Sekarang, saatnya Umar mulai MPASI. Sampai ga bisa tidur lho Bunda, mikirin apa persiapan awal memasak MPASI? Beras merah, Pisang, Tepung Gasol, atau apa?? Belum alat masaknya heboh ngumpulin panci, sendok kayu untuk mengaduk, Wadah-wadah makanan kecil, sendok, gelas, parutan, talenan, blender, saringan..sampe punya rak piring khusus buat Umar seorang…wiiidiihh…udah kaya mau hajatan aja. Padahal masaknya cuma jadi 1 mangkok kecil. Hehehe… Maklumlah serba pertama dan sangat idealis pengen masakan buatan sendiri (Say No to Instant Food) Kalo masalah steril-mensteril, Bunda ga pernah steril alat makan. Cukup cuci biasa saja dengan sabun dan air yang bersih. Biasanya hanya botol susu, breast pump dan botol kacanya yang disteril setiap akan digunakan.

Beras merah jadi pilihan utama Bunda di minggu-minggu awal MPASI. Alhamdulillah, tidak ada kesulitan memberikan makanan padat untuk Umar. Sekarang, makannya sudah macam-macam, bahkan makanan di meja buat orang dewasa (semur daging, tahu, perkedel, Sop…diembat juga..) Tetap lahap, sampai sekarang.

Susunya of course masih ASI dong, Bunda setiap hari pompa ASIP. Berjuang sampai tetes darah penghabisan.

Bulan Puasa, Umar 9 bulan. Wah, ASI nge-drop. Biasa dapat 500ml sehari (di kantor), Cuma bisa 250ml aja. Tapi tetap semangat. Makan sahur yang banyak, Buka Puasanya apalagi (hahaha…) dan menyempatkan pumping malam. Alhamdulillah, Bunda sukses puasa sambil menyusui. No Problemo !!!

Sekarang Umar sudah 1 tahun, berat badan 9,5 kg. Walaupun baru ada 4 gigi, tapi jalannya sudah lancar. Sudah bisa meminta, merajuk, ngambek, bahkan marah-marah kalau keinginannya tidak kesampaian. Tapi yang pasti, Subhanalloh, tambah ganteng….

1 tahun ini benar-benar digodok untuk 100% mengubah pola hidup bunda dan Abu. Jam 04.00 subuh, mata belonya Umar udah kinclong, lanjut ngajak becanda, pas Umar main sama Abu, Bunda langsung bangun mandi pagi (karena daster pasti kena ompol), sholat subuh, trus ngibrit ke dapur bikin makanan Umar. Di sela-sela nya, sempetin cuci botol, steril pompa dan botolnya. Itu rutinitas setiaaaaaaaaaaaaaappp hari. Dulu, malah harus nyuapin makan dulu dan mandiin, walhasil, sampai kantor always jam 08.30. Padahal masuk kantor jam 07.30. Sekarang, lumayan, Abu mau bantu suapin sarapannya, dan urusan mandi, dilimpahkan ke Nenek dan Eyang. Jam kantor normal kembali.

Pulang kantor, jam 16.30 sampai rumah, dulu sih bisa langsung makan trus ngegubrak tidur. Sekarang, harus buru-buru mandi sore, langsung pegang anak karena Neneknya mau pulang, (suapin makan sorenya, ajak jalan-jalan di kompleks, ajak main, ngelonin). Nanti kira-kira jam 08.00 baru Umar tidur. Bunda bisa deh makan malam, sedikit chit chat sama Abu, online for a sec…trus, siap2 ngelonin lagi (biasanya jam 21.00 minta nenen), dan biasanya emaknya ikut molor juga.

Sekarang Bunda mau rada serius nih. Talking about kesehatan Umar. Jadi mendadak rajin ikutan milis-milis tentang anak. Alhamdulillah terdampar di milis SEHAT asuhan dr. Purnamawati. (Good recommendation)

Bulan-bulan pertama, Umar kena rash, bentol-bentol di muka, tangan, kaki, tapi tempat rash-nya pindah-pindah. Wuih, bingung dong, ke dokter anak, dikasih puyer…hmmm…terima kasih deh, kita observasi aja dulu. Sepertinya alergi (jadi harus hindari alergennya dong), maaf pak Dokter, obatnya ga Umar minum.

Pernah beberapa kali kena batuk pilek, sebenarnya biasa, dan dihadapi oleh Abu dan Bunda dengan mengikuti ajaran RUD (Rational Used of Drugs), yaitu tidak memberikan obat, apalagi antibiotik apapun untuk batpilnya. Ini Bunda co-pas yah, wejangan dr. Wati perihal batpil :

COLDS AND FLU
Penyebabnya infeksi virus. Umumnya berlangsung selama 5 hari (3 – 14 hari rentangnya) tergantung daya tahan tubuh dan tergantung ada tidaknya penderita flu di rumah atau di sekolah. Jika bayi dan anak memiliki saudara kandung yang lebih besar dan sudah bersekolah, maka ia sangat potensial sering mengalami colds & flu.
Tidak ada obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan meningkat sejalan dengan waktu
Tatalaksana:
 Yang paling dibutuhkan adalah cairan, sering minum meski sedikit2.
 Supaya ”ingus” tidak kental dan menyumbat jalan nafas, berikan air garam steril sebagai tetes hidung. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga banyak membantu saat mengalami colds & flu.
 Apabila pada malam hari tidak dapat tidur karena hidung tersumbat, beri tetes hidung untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung (Breathy).
 Humid environment, jangan kering seperti dalam ruangan berAC. Kalau perlu, taruh satu ember berisi air mendidih setelah anak tidur.
 Paracetamol – bila bayi/anak uncomfortable atau high fever (>38.5)
 Di lain pihak, kita sering mengacaukan alergi dengan flu. Pada alergi yg mengenai hidung, anak juga akan ”meler” tetapi anak tidak demam, tetap aktif bermain. Bukan berarti juga anak menderita infeksi virus flu.

Pencegahan:
 Sering cuci tangan
 Hindari kontak erat dengan penderita flu
 Jaga kebersihan rumah seperti di kamar mandi, dapur, dsb

Kapan menghubungi dokter?
 Persistent cough, fever > 72 hours
 Sesak nafas, kuku dan bibir tampak biru
 Luar biasa rewel, atau luar biasa mengantuk (sangat sulit dibangunkan)

Ingat: Tidak ada obat pilek yang efektif untuk bayi dan anak.
COUGHS
Jika kita membaca literaratur kedokteran, sering diungkapkan bahwa batuk merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu saluran nafas kita, seperti dahak, riak, benda asing (kacang, dsb). Batuk sebagai anugerah terindah dari Tuhan sering disikapi dengan tidak bijak oleh mereka yang tidak memahaminya.
Andaikan kita perhatikan sejenak para pada penderita stroke misalnya. Karena adanya gangguan dalam otak, refleks batuknya terganggu. Akibatnya dahak menumpuk di paru2 dan ybs umumnya mengalami pneumonia. Hingga berefek fatal kematian pada penderita tsb.
Batuk bukanlah momok. Melalui batuk, kita tetap dapat bernafas, karena lendir yang mengganggu saluran nafas akan dikeluarkan saat batuk. Dengan batuk, kita terhindari dari bahaya tersedak benda asing yang masuk ke saluran nafas kita.
Yang terpenting yang harus kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebab batuk. Infeksi kah atau bukan infeksi.
Pada anak, batuk umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau oleh alergi.
Batuk akibat infeksi virus flu misalnya bisa berlangsung sd 2 minggu. Bahkan lebih lama lagi bila anak kita sensitif atau alergi, atau bila di rumah ada anak lain yang lebih besar yang juga sedang sakit. Batuk karena alergi juga bisa berlangsung lama atau hilang timbul selama pencetus alerginya tidak diatasi. Alergi yang dimaksud bisa dalam bentuk alergi hidung (Allergic rhinitis), asma, alergi suatu zat dari lingkungan. Penyebab lainnya adalah sinusitis, reflux, pneumonia.
Tatalaksana :
 Cari PENYEBAB batuk.
Jika batuk disebabkan oleh produksi dahak yang berlebihan, maka upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi produksi lendir. Melalui cara :
 Minum banyak yang hangat misalnya lemon
 Jangan ada asap rokok
 Ruangan jangan kering (Moist air – kamar mandi – buka keran air panas biarkan beberapa lama sehingga ruangan, atau taruh satu ember air panas mendidih, atau pasang humidifier)
 Agar anak lebih nyaman, tidurkan dengan bantal agak tinggi
 NO – ANTIBIOTICS. Ingat ! Kebanyakan batuk tidak memerlukan antibiotik
 NO cough suppressant. Jangan mengkonsumsi obat penekan refleks batuk (seperti DMP). Anehnya, anak kita sering mendapatkan obat racikan / puyer yang salah satu kandungannya codein (sejenis narkotika) yang tidak diketahui manfaatnya.
Pada dasarnya, TIDAK ADA yang namanya obat batuk itu.
Juga tidak ada obat pencair dahak. Cari pencetusnya !

Tuh, teorinya bagus kan, Alhamdulillah prakteknya sudah dilaksanakan, walaupun sambil tutup telinga karena dibilang TEGA sama anak, sakit koq ga dikasih obat. Huhuhu…justru yang dikasih obat itu yang tega, karena memberikan hal yang justru tidak diperlukan bayi. Kalau mau browsing, wuihhh, syerem efek samping obat-obatannya.

Mudah-mudah Umar ga sering batpil, biar Bunda dan Abu ga dapet predikat TEGA lagi ya…

Now, talking about sesak nafas yang mengikuti ketika batpil…ini nih yang repot dan bikin ga bisa tidur. Kalau hidung mampet, nafasnya jadi memburu. Cepat sekali. Lebih dari 60 kali dalam semenit. Wuih, mana bisa tidur liat anak sesak nafas gitu. Akhirnya bongkar-bongkar lagi artikel di milis SEHAT. Apa anak Bunda Asma (karena ada keturunan dari Abu-nya), apa bronkiolitis, apa dong?

Ini beberapa artikel (dari milis SEHAT of course)

BRONCHITIS (INFEKSI SALURAN NAFAS)
Penyebab banyak, tetapi yang tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma, environmental exposures). Bisa juga karena sinusitis, refluks, reaksi obat, kelainan bawaan saluran napas, tersedak “benda asing”, pneumonia (virus, jamur). Mohon diingat – pneumonia belum tentu karena infeksi bakteri. Jadi – belum tentu perlu antibiotik. Biasanya ditandai dengan batuk lama.
Tatalaksana :
 Mencari penyebab. Bila karena alergi – modifikasi lingkungan sekitar untuk mengurangi eksposur pada anak
 Humidifikasi
 Ekstra cairan, dll

Jika anak kita dinyatakan menderita bronkitis, maka kita harus segera berpikir bahwa -itis di sini artinya radang – inflamasi. Penyebabnya belum tentu infeksi bakteri – mayoritas bronkitis pada anak tidak perlu antibiotik

jaraaang sekali anak di bawah usia 3 tahun menderita asma apalagi usia 7
bulan Kemungkinannya kalau memang wheezing (bukan grok grok) ya bronkiolitis

kedua, kalau asma, tak bisa teratasi dengan hanya 1 kali nebulizer jadi … berhati2 dan tak akan melabel anak saya asma sebelum saya second atau bahkan third opinion.

Konsep terkini mekanisme terjadinya asma, yaitu asma merupakan suatu proses inflamasi (peradangan) kronik /menahun yang khas, melibatkan dinding saluran respiratorik /napas, menyebabkan
terbatasnya aliran udara, dan peningkatan reaktivitas (hiperreaktif /hipersensitif) saluran napas. Hiperreaktivitas ini merupakan awal terjadinya penyempitan saluran napas, sebagai respon terhadap berbagai macam rangsang

Asma sulit didiagnosis pada anak di bawah 3 tahun. Untuk anak yang sudah besar (>6 tahun) pemeriksaan faal / fungsi paru sebaiknya dilakukan.

Beberapa penelitian menemukan bahwa banyak bayi dengan wheezing tidak berlanjut menjadi asma pada masa anak dan remajanya. Adanya asma pada orangtua, dan dermatitis (penyakit kulit eksim) atopic pada anak dengan mengi merupakan salah satu indikator terjadinya asma di kemudian hari. Apabila terdapat kedua hal tersebut, maka kemungkinan menjadi asma lebih besar

Tujuan tata laksana asma anak secara umum adalah untuk menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang anak secara optimal. Secara lebih rinci, tujuan yang ingin dicapai adalah:
1. Anak dapat menjalani aktivitas normalnya, termasuk bermain dan berolahraga.
2. Sesedikit mungkin angka absensi sekolah.
3. Gejala tidak timbul siang ataupun malam hari.
4. Uji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada variasi diurnal(dalam 24 jam) yang mencolok.
5. Kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan.
6. Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sesedikit mungkintimbul, terutama yang mempengaruhi tumbuh kembanganak.
Pencegahan dan tindakan dini harus menjadi tujuan utama dalammenangani anak asma. Pengendalian lingkungan, pemberian ASI ekslusif minimal 6 bulan, penghindaran makanan berpotensi alergenik (mampumencetuskan alergi), pengurangan pajanan terhadap tungau debu rumahdan rontokan bulu binatang, terbukti mengurangi manifestasi alergimakanan, dan khususnya dermatitis atopik pada bayi, juga asma.

GINA membagi tata laksana serangan asma menjadi dua, tata laksana di rumah dan di rumah sakit. Tata laksana di rumah dilakukan oleh anak asma (atau orangtuanya) sendiri di rumah. Hal ini dapatdilakukan oleh mereka yang sebelumnya telah menjalani terapi denganteratur, dan mempunyai pendidikan yang cukup. Terapi awal berupainhalasi beta agonis kerja pendek hingga tiga kali dalam satu jam.Kemudian anak atau keluarganya diminta melakukan penilaian responsuntuk penentuan derajat serangan, untuk ditindaklanjuti sesuai derajatnya. Namun untuk kondisi di negara kita, pemberian terapiawal di rumah seperti di atas cukup riskan, dan kemampuan melakukanpenilaian juga masih dipertanyakan. Dengan alasan demikian, maka apabila setelah dilakukan inhalasi satu kali tidak mempunyai responyang baik, maka dianjurkan mencari pertolongan dokter.

Wah, masih belum cukup puas sebenarnya, karena belum memperlihatkan secara langsung kepada dokter anak seperti apa tersengal-sengal nafasnya. tapi karena Umar sudah keburu sembuh dari batpilnya dan sesaknya pun ikut hilang, kekhawatiran tidak berlanjut. Semoga di lain waktu, tidak seperti ini lagi. Asli, Bunda bingung mau menegakkan diagnosa apa (kaya’ nya ini tugas dokter deh ya? Hehehe…) Cuma tidak ingin salah obat aja. Dulu kan waktu Umar di incubator, telah masuklah 1 obat antibiotik impor dari Amerika bernama Meronem, yang didakwa sangat ampuh. (tapi katanya tidak boleh untuk bayi…GUBRAKKKSS…) maafkan Bunda mu yang kurang pengetahuan ini. Hiks…hiks…Pemberian antibiotika yg tdk pada tempatnya dan pada usia sangat dini menyebabkan risiko alergi semakin meningkat.

16 Desember 2009, Umar tepat 1 tahun…daaaaaaaaaaannnn…Alhamdulillah mau dikasih Adik sama Alloh. Bunda ternyata sudah hampir 5 minggu mengandung adiknya Umar. ASI untuk Umar tetap jalan terus. Mudah2an sampai 2 tahun. Jadi bisa tandem nursing sama adik ya Bang…

 

 

Advertisements

2 thoughts on “1 year old Umar … … …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s