Tak Terganti…. (share dari Klasi Bandung’s Site)

[Pemenang Lomba Menulis] by Indah IP Jul 28, ’09 3:55 AM
for everyone

Selamat pagi sayang, selalu indah mengamati pulas tidurmu. Matahari menjulur-julur dari bingkai jendela, ingin menyentuh pipi-pipi lembut itu. Tak terasa, tiga setengah tahun tumbuh begitu cepat ya! Sejak kapan kalian bukan bayi mungil mama lagi?

Semalam kalian bikin mama tak habis tersenyum. Ketika menghambur dalam pelukan dan tiba-tiba merayu,”Ma, boleh nggak nyusu lagiii…”. Mama kaget lantas bertanya-tanya kenapa. Kalian cuma nyengir lalu menjawab kompak,“ Kangen ajaa…!”.

Ah, dua tahun dulu itu memang cuma miliki kita ‘kan? Momen tak tergantikan! Episode sangat indah sebagai ibu, yang mengalirkan sungai kebahagiaan setiap kali mengenangnya kembali. Tuh, belum apa-apa mata mama sudah berembun lagi. Betapa besar rasa syukur bisa menyusui kalian berdua sekaligus hingga saatnya menyapih.

Inginkah kalian tahu, beberapa hal yang tak bisa mama lupakan selama proses istimewa itu? Ini sebagian kecil saja, sisanya adalah laut begitu luas yang tak mampu mama ungkapkan, hanya bisa mama rasakan:

Mata kalian adalah danau teduh yang paling mama rindu setiap kali menyusui. Tempat mama sembunyi, hanyut dan hilang sejenak. Jika itu mimpi, mama merasa tak ingin bangun atau melewatkannya sedetikpun!

Sentuh tangan kalian di pipi dan punggung mama sambil menyusu adalah energi, yang selalu bisa menghapus lelah dan membarukan lagi semangat mama berkali-kali lipat. Kalian ciptakan momen ajaib, ketika melepaskan susu sesaat hanya untuk tersenyum dan mengucap, “..mama..”, lalu menyusu kembali sampai tertidur sendiri.

Kadang mama pikir kalian bahkan bisa menerawang isi hati mama saat kangen papa yang bertugas jauh tiap dua mingguan saat itu. Seolah meyakinkan semua baik-baik saja dan kalian ada untuk menemani mama, sambil menyusu bergantian kalian tepuk punggung mama dan usap ujung siku sampai lengan mama sambil bergumam.

Sebagai ibu baru, tentu saja ilmu mama masih dangkal dan tak sempurna meski sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Maka bertiga kita belajar jatuh bangun sampai menemukan posisi tandem paling pas dan nyaman buat menyusui. Badan pegal, dada sesak, punggung nyeri, kaki semutan, kebelet pipis dan harus menahannya sekian jam demi tidak menginterupsi kalian yang ada dipangkuan kiri dan kanan mama hingga kelelahan fisik lainnya yang dari pagi hingga pagi lagi dijalani hampir setiap dua jam, sudah bukan rahasia lagi. Bersyukur kita punya papa yang tanggap dan sigap jika berada di samping kita. Breastfeeding father sejati! Selalu siap memijat, membuatkan teh hangat, mengipas-ngipas, menyanyikan lagu pengantar tidur, menghibur, membuat tertawa, sampai menjadi telinga untuk segala curhat mama!

Lucunya di saat genting, kalian selalu penuh pengertian. Seperti ketika suatu siang wilayah kita terendam banjir, lampu mati dan seluruh ruangan di rumah kita bocor oleh air hujan dan hantaman angin puting beliung sedang papa jauh di Kalimantan, kalian tetap bisa tenang dalam pelukan mama di ruang tengah, satu-satunya tempat paling kering. Beralas tikar dan berganjal bantal, kalian menyusu tenang sementara mama menghabiskan sepiring nasi dan lauk-pauk yang memang belum tersantap karena kepanikan situasi sebelumnya. Bersyukur Oma sedang menginap saat itu dan bisa mengambil alih semuanya. Terbayangkah bagaimana serunya? Kita bertiga sama-sama’makan’, mengisi energi sampai kenyang dan lantas pulas ketiduran! Hahaha!

Suatu saat kelak kau kan tahu, ‘Nak, bahwa hidup memiliki tahapan-tahapan. Setelah menyusuimu selama enam bulan dan melanjutkannya hingga dua tahun penuh, tibalah saatnya menyapih. Cacar air yang kita alami bertiga menjadi momen penting dalam proses ini. Lucunya, setelah lima hari berhasil tersapih, kita bertiga menyerah begitu saja karena satu alasan, “kangen”. Ingatkah bagaimana kita melonjak-lonjak dan tertawa-tawa hanya karena lega memutuskan untuk tandem bertiga lagi siang itu, sebagai salam perpisahan! Mata jernih kalian begitu bercahaya karena diperbolehkan memeluk pinggang mama dan tertidur dalam pelukan lagi. Hari itu jadi episode penutup yang istimewa dan penuh rindu! Saat itulah kita bertiga tahu, bahwa sesungguhnya kita memang sudah siap menjalani tahap selanjutnya, ikhlas melangkah maju bersama-sama. Wah, kalian sudah besar!

Demikianlah, mama ingin kalian tahu, I’m proud to be your mom! Menyaksikan sendiri pertumbuhan kalian yang sehat, cerdas dan ceria sampai saat ini, membuat mama yakin, air susu ibu(ASI) adalah cairan ajaib luar biasa yang sangat berharga dan mama bangga telah mempersembahkannya kepada kalian dengan seluruh cinta yang mama miliki. Suatu saat ketika menjadi ibu, mama berharap kalian merasakan hal yang sama, keindahan tak terganti yang tak pernah bisa terulang lagi.

(very inspiring story….)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s